Media Arahbaru
Beranda Sosial Budaya 433 Warga Mojokerto Keracunan MBG, Kemenkes dan BGN Turun Tangan

433 Warga Mojokerto Keracunan MBG, Kemenkes dan BGN Turun Tangan

Arah Baru – Peristiwa dugaan keracunan massal usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) menu soto ayam di wilayah Mojokerto semakin meluas. Total warga terdampak kini tercatat 433 orang, mencakup siswa sekolah, santri, hingga masyarakat umum.

Dari jumlah tersebut, 140 korban masih dirawat inap di 11 layanan kesehatan, sementara ratusan lainnya telah diperbolehkan pulang.

Insiden ini mendorong penyelidikan terpadu lintas lembaga dengan keterlibatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Gizi Nasional (BGN). Sebagai langkah awal, dapur MBG yang memasok makanan dihentikan operasionalnya sementara waktu.

Jumlah Korban Terus Bertambah

Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko, menyampaikan bahwa jumlah korban mengalami lonjakan signifikan sejak akhir pekan. Awalnya tercatat 152 orang pada Sabtu, kemudian bertambah menjadi 261 orang pada Minggu, meningkat lagi menjadi 349 orang pada Senin, hingga akhirnya mencapai 433 orang.

Dari total tersebut, sebanyak 293 korban telah kembali ke rumah, 25 orang menjalani perawatan rawat jalan, dan 140 lainnya masih dirawat inap.

“Kami sudah sepakat dengan BGN (Badan Gizi Nasional), semua biaya (pengobatan para korban) ditanggung BGN,” tegas Teguh kepada detikJatim, Selasa (13/1/2026).

Para pasien rawat inap tersebar di berbagai fasilitas kesehatan, yakni 38 orang di RSUD Prof dr Soekandar, 28 di RS Sumberglagah, 12 di RS Mawaddah, 12 di RSI Arofah, 18 di RS Kartini, 11 di RS Sido Waras, 2 di RSI Sakinah, 6 di Puskesmas Pacet, 8 Puskesmas Kutorejo, 3 di Puskesmas Bangsal, serta 2 orang di Puskesmas Dlanggu.

Rumah Sakit Utamakan Kemanusiaan

Direktur RSUD Prof dr Soekandar, dr Gigih Setijawan, menyatakan pihak rumah sakit sejak awal memprioritaskan penanganan medis tanpa mempertanyakan skema pembiayaan.

“Kami manut dinas (Dinas Kesehatan) saja, nanti instruksi BPJS ya pakai BPJS, kalau bantuan khusus ya ikut saja. Kami tidak menanyakan bayar pakai apa, datang kami layani,” jelasnya.

Pernyataan serupa disampaikan Wakil Direktur Pelayanan Medis RSI Sakinah, dr Roisul Umam. Fasilitas tersebut menangani empat korban, dengan rincian tiga anak menjalani rawat inap dan satu pasien dewasa menjalani rawat jalan.

“Perwakilan BGN sudah datang menyampaikan biaya ditanggung mereka semua, makanya kami diminta mengirim invois ke mereka. Berapa pun ditanggung,” tandasnya.

Kemenkes Selidiki Celah Keracunan

Kemenkes melalui Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit menurunkan tim khusus untuk menelusuri sumber keracunan. Pemeriksaan dilakukan di sekolah-sekolah penerima MBG serta dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Hidayah, Kutorejo.

Tenaga Teknis Sanitasi Lingkungan Ditjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Izzi Ashari, menjelaskan bahwa secara struktur bangunan dan tata ruang, dapur SPPG telah memenuhi standar. Namun, ia menegaskan bahwa keracunan pangan bisa dipicu oleh berbagai tahapan proses.

“Kami masih mempelajari celahnya ada di mana, apakah di penerimaan bahan baku, pemasakan, pendistribusian, atau di penerima manfaat di sekolah. Karena hasil labnya belum ada,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sistem penyimpanan makanan memegang peranan penting dalam keamanan pangan.

“Kalau ada suatu penyimpanan sesuai SOP, mungkin bisa lebih dari 4 jam, misalnya di suhu minus. Kadang lalai dalam penyimpanannya tidak sesuai SOP dan lebih dari 4 jam,” terangnya.

Dapur MBG Belum Kantongi SLHS

Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui bahwa dapur MBG SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Iya (SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03) belum punya SLHS), tapi sudah mengajukan,” kata Izzi kepada wartawan di lokasi, Selasa (13/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa proses pengurusan sertifikat tersebut masih berjalan di Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto.

“Kan SLHS itu banyak persyaratan, dari persyaratan itu masih proses di Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto. Tadi kami sudah asistensi dengan dinas, mereka (SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03) sudah mengajukan. Cuma mereka masih proses untuk persyaratan,” jelas Izzi.

Dalam rangka evaluasi menyeluruh, tim Kemenkes juga memeriksa prosedur pencucian alat makan, asal bahan baku, hingga sistem manajemen dapur.

“Kami melakukan pengawasan dan pembinaan supaya SPPG ini kalau beroperasi lagi lebih baik sesuai syarat-syarat sertifikat laik higiene sanitasi,” terangnya.

Meski demikian, Izzi menekankan bahwa sumber keracunan belum dapat dipastikan berasal dari satu titik saja.

“Kami masih mempelajari celahnya ada di mana, apakah di penerimaan bahan baku, pemasakan, pendistribusian, atau di penerima manfaat di sekolah. Karena hasil labnya belum ada,” tandasnya.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Selama proses penyelidikan berlangsung, BGN memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah. Dapur tersebut sebelumnya memproduksi 2.679 porsi MBG setiap hari yang didistribusikan ke 22 sekolah dan pondok pesantren di wilayah Kutorejo dan Mojosari.

Apabila ditemukan pelanggaran serius, dapur SPPG tersebut berpotensi ditutup secara permanen.

Sebagai informasi, menu MBG berupa soto ayam dibagikan pada Jumat (9/1) siang. Keluhan kesehatan mulai muncul pada Jumat malam hingga Sabtu pagi, dengan gejala seperti pusing, mual, muntah, demam, dan diare.

Saat ini, proses penyelidikan terpadu yang melibatkan Polres Mojokerto, Kodim 0815, Dinas Kesehatan, serta BGN masih berjalan, sembari menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab utama keracunan massal tersebut.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!