Gebrakan KKN UIN Jakarta di Cidokom: Padukan Sertifikasi Wakaf dan “Sedekah Sampah” untuk Aksi Iklim
BOGOR, arahbaru.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kelompok 178 AKSANTARA dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi menjejakkan langkah pengabdiannya di Desa Cidokom, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Sabtu (25/07/2026).
Mengusung tema progresif, “Pemberdayaan Zakat dan Wakaf untuk Aksi Iklim Berkelanjutan,” kehadiran para akademisi muda ini mendobrak sekat tradisional KKN dengan menawarkan solusi konkret atas problematika lingkungan dan administrasi filantropi Islam di tingkat desa.
Bertempat di Kantor Desa Cidokom, acara pembukaan berlangsung khidmat. Rangkaian seremonial yang dibuka dengan lantunan tilawah Al-Qur’an dan kumandang Indonesia Raya ini mengerucut pada satu agenda esensial: pemaparan program kerja. Di hadapan para pemangku kebijakan dan tokoh masyarakat, mahasiswa merinci cetak biru pengabdian mereka yang terbagi dalam tiga pilar utama: Kemasyarakatan, Keagamaan & Wakaf, serta Pendidikan.
Berbeda dengan program pengabdian pada umumnya, Kelompok 178 menitikberatkan fokus pada dua program unggulan yang dinilai sangat kontekstual dengan isu global hari ini:
Sertifikasi Aset Wakaf Warga dan Sedekah Sampah.
Kepala Desa Cidokom, Sain Saputra, S.E., menyambut hangat gagasan segar dari para mahasiswa. Bagi Sain, sinergi antara nilai religius (zakat/wakaf) dan kepedulian ekologis (aksi iklim) adalah terobosan yang relevan dan esensial.
“Kami di jajaran pemerintahan desa sangat mengapresiasi dan siap memberikan dukungan penuh selama masa KKN ini. Terobosan seperti Sedekah Sampah dan Sertifikasi Wakaf ini adalah hal yang sangat membumi dan memang tengah dibutuhkan warga. Seringkali aset wakaf warga terbengkalai secara legalitas administrasi, dan urusan tata kelola sampah kerap menjadi polemik yang belum usai. Kehadiran adik-adik mahasiswa UIN ini hadir sebagai katalisator solusi,” tegas Sain Saputra di sela-sela acara.
Dukungan serupa mengalir dari akar rumput. Ketua RT 04, Heri Sutikno, S.E., melihat program kerja yang dipaparkan tidak sekadar muluk di atas kertas, melainkan sangat aplikatif untuk diterapkan di lingkup Rukun Tetangga.
“Sebagai perwakilan warga di tingkat bawah, program Sedekah Sampah ini sangat menarik dan mudah dicerna masyarakat. Selain efek utamanya menjaga kebersihan lingkungan, ada nilai ibadah dan perputaran ekonomi di dalamnya. Kami di RT 04 akan pastikan warga berpartisipasi aktif menyukseskan program-program ini,” tutur Heri dengan nada optimis.
Dimulainya masa pengabdian Kelompok 178 ini ditandai secara simbolis melalui prosesi pemotongan pita yang disambut riuh tepuk tangan tamu undangan, disaksikan langsung oleh Kepala KUA Kecamatan Gunung Sindur H. Edi Suryadi, S.Ag, Ketua RW 01 Namat Namor, jajaran Kepala Dusun, Kepala LPM Desa, dan para tokoh masyarakat.
Visi Ekologis dan Harapan Kampus
Ditemui arahbaru.com dalam sesi wawancara khusus seusai rangkaian acara, perwakilan Kelompok 178 AKSANTARA, Jessika Nurhidayah, memaparkan landasan filosofis dari program yang mereka usung. Ia menegaskan bahwa visi besar kelompoknya adalah menjembatani kekuatan filantropi Islam dengan mitigasi krisis iklim.“Zakat dan wakaf seringkali hanya dipandang sebagai ibadah vertikal semata, padahal instrumen ini memiliki dimensi sosial-ekologis yang luar biasa besar. Melalui pendampingan Sertifikasi Aset Wakaf, kami ingin mengamankan aset umat secara legal agar berdaya guna secara optimal,” papar Jessika kepada redaksi.
“Sementara lewat Sedekah Sampah, kami ingin menggeser paradigma warga. Kami ingin mengajak masyarakat sadar bahwa menjaga bumi dari ancaman krisis iklim bisa dimulai dari pekarangan rumah sendiri, yang jika dikelola dengan sistem yang tepat, sampah itu akan bernilai sedekah jariyah,” imbuhnya membeberkan cetak biru program tersebut.
Sebagai penutup, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Prof. Amelia Fauzia, M.A., Ph.D., yang turut hadir mengawal mahasiswanya, menitipkan pesan sekaligus menaruh harapan besar pada sinergi yang terbangun antara kampus dan masyarakat desa.
“KKN ini bukan sekadar ajang menggugurkan kewajiban akademik, melainkan ruang pembuktian bahwa keilmuan yang dipelajari di kampus mampu bertransformasi menjadi aksi yang nyata dan memberdayakan. Dukungan luar biasa dari perangkat desa dan warga Cidokom adalah modal utama bagi keberhasilan inisiatif anak-anak kami untuk merawat lingkungan dan memajukan umat,” pungkas Prof. Amelia menutup perbincangan. (arahbaru.com/Red)
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




