Bandingkan Cara Ganjar dan Anies Baswedan dalam Menyalurkan Zakat
Akhir tahun 2022, tepatnya 30 Desember, Ganjar Pranowo menuliskan sebuat cuitan di Twitter. Meskipun sudah dihapus, tangkapan layar cuitan tersebut Sudah beredar luas. Seperti di bawah ini cuitannya.
“Menjelang ultah @PDI_Perjuangan ke-50, saya berencana memugar 50 rumah kader yang kondisinya belum layak. Rumah Pak Sumarwan ini jadi yang pertama. Beliau Ketua Ranting PDIP Desa, Kapencer, Kecamatan Kertek, (Kabupaten) Wonosobo.”
Masalahnya adalah program pemugaran untuk kader PDIP tersebut menggunakan dana dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah. Bila menggunakan dana dari Baznas, mengapa dana tersebut seolah-olah mengatasnamakan diri pribadi?
Cara ini tentu saja sudah masuk sebagai penyalahgunaan wewenang. Bila dana tersebut dari zakat, infaq, dan sodaqoh, seharusnya tidak digunakan untuk branding partai politik. Apakah ini cara Ganjar untuk cari muka kepada PDIP agar didukung jadi capres? Sehingga lupa daratan menggunakan dana zakat untuk branding partai dan merayu Bu Mega? Entahlah.
Terlepas dari apa niat Ganjar Pranowo, coba bandingkan pengelolaan zakat oleh pajabat publik yang sekelas Ganjar, yaitu Anies Baswedan. Keduanya sama-sama pernah sama-sama menggunakan dana zakat saat menjabat gubernur.
Saat Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta, pernah terjadi kebakaran di Kampung Gembrong, Jakarta Timur. Kejadiannya April 2022. Saat itu Anies bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta segera memetakan dan mencari solusi untuk warga terdampak kebakaran.
Setelah dibahas bersama tim internal, kemudian diputuskan untuk bekerja sama dengan Baznas DKI Jakarta untuk pembiayaan pembangunan rumah bagi warga terdampak. Dalam waktu sekitar enam bulan rumah-rumah di Kampung Gembrong sudah berdiri cantik. Kampung tersebut diberi nama Kampung Gembira Gembrong.
Bukan hanya membangun rumah yang terbakar, Anies Baswedan dan tim juga menata ulang kampung tersebut. Akses jalan yang sempit dipetakan ulang, sehingga terdapat jalan inspeksi. Pembuatan jalan inspeksi ini untuk antisipasi seandainya terjadi bencana akses penanganannya lebih mudah. Sebelumnya tidak ada jalan inspeksi di Kampung Gembrong.
Selain itu, standar kelayakan hunian juga ditingkatkan. Rumah yang dibangun memiliki standar akses air, MCK, listrik, udara, dan cahaya yang lebih baik. Standar rumah layak dan sehat didapat oleh warga Kampung Gembira Gembrong. Terjadi peningkatan kualitas hidup setelah pembangunan rumah menggunakan dana dari Baznas DKI Jakarta oleh Anies Baswedan dan tim.
Hebatnya lagi, Anies menyatkaan bahwa pembangunan Kampung Gembira Gembrong adalah hasil kerja bersama. Hasil kolaborasi. Dia tidak mendaku itu kerja pribadinya. Tidak punya kerja tersebut adalah untuk partai tertentu. Pembangunan tersebut dilakukan Pemprov DKI Jakarta beserta teknokrat yang berkompeten dengan berdiskusi dengan warga terdampak. Sekali lagi, bukan menonjolkan diri itu kerja pribadi.
Dari sini, kita bisa melihat bukan, bagaimana beda Ganjar dan Anies dalam memanfaatkan dana umat dari zakat, infak, dan sodakoh. Sedari awal, Ganjar menyatakan: “Menjelang ultah @PDI_Perjuangan ke-50, saya berencana memugar…”. Seolah dengan uang sendiri, Ganjar akan melakukan pemugaran. Padahal itu dana umat.
Bandingkan dengan Anies yang sejak awal menyatakan bahwa bekerja bersama Baznas DKI Jakarta dan warga, Pemprov DKI akan membangun ulang rumah terdampak kebakaran. Dijelaskan secara transparan di depan dan tidak didaku sebagai kerja pribadi.
Dari perbandingan di atas, sudah bisa menilai kan bagaimana seorang pemimpin bekerja dan memegang amanah? Rasanya tak perlu saya simpulkan. Silakan Anda simpulkan sendiri.
Oleh : R. Noto Kusumo (Budayawan)
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




