Media Arahbaru
Beranda Bisnis Okupansi Hotel Jakarta Meningkat Didukung Turis Internasional, Bali Terus Moncer

Okupansi Hotel Jakarta Meningkat Didukung Turis Internasional, Bali Terus Moncer

Arah Baru – Industri perhotelan di Jakarta sempat mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir akibat menurunnya tingkat hunian atau okupansi. Namun, menjelang penutupan 2025, sektor ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Okupansi Jakarta Mulai Pulih

Menurut Vice President, Investment Sales, JLL Hotels & Hospitality, Irina Chadsey, tingkat hunian hotel di Jakarta perlahan meningkat meski sempat merosot sebelumnya.

Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya kedatangan wisatawan internasional serta pemanfaatan fasilitas hotel oleh lembaga pemerintah.

“Rata-rata tarif harian hotel menunjukkan peningkatan bertahap dari tahun ke tahun. Penurunan okupansi sempat terjadi akibat kebijakan pemerintah baru-baru ini, namun seiring pelonggaran kebijakan, kami memperkirakan tingkat hunian akan kembali membaik sejalan dengan kedatangan turis dan penggunaan ruang acara pemerintah,” ujar Irina saat acara Tren dan Peluang Investasi Properti di Tengah Dinamika Ekonomi & Teknologi di Four Season Jakarta, Kamis (30/10/2025).

Data JLL menunjukkan RevPAR (Revenue per Available Room) Jakarta per September 2025 turun secara tahunan karena okupansi yang menurun, meski tarif harian rata-rata mengalami sedikit kenaikan.

JLL menilai ketergantungan hotel pada wisatawan domestik menjadi faktor utama menurunnya okupansi sepanjang 2025, sementara wisatawan mancanegara mendorong kenaikan tarif kamar.

Pada kuartal III 2025, okupansi hotel di Jakarta tercatat mencapai 59.157 kamar. JLL memperkirakan hingga kuartal IV 2025 sampai 2027, jumlah kamar akan bertambah 1.783 unit. Average Daily Rate (ADR) hotel Jakarta YTD September 2025 meningkat 8,1%, sedangkan RevPAR menurun -0,8%.

Tren Positif di Bali

Sementara itu, industri hotel di Bali justru terus mencatat tren positif menjelang akhir 2025. Irina menuturkan okupansi di Pulau Dewata akan terus meningkat seiring kedatangan wisatawan mancanegara.

“Dari sisi kinerja, hotel-hotel di Bali menunjukkan kondisi sangat solid. Grafik menunjukkan bahwa tahun 2025 berada di puncak pasar dengan kenaikan rata-rata tarif harian dan tingkat okupansi,” jelas Irina.

Pada kuartal III 2025, okupansi hotel di Bali tercatat 47.799 kamar, dengan prediksi penambahan 3.248 kamar hingga kuartal IV 2025-2027. ADR YTD September 2025 naik 7,7%, sementara RevPAR meningkat 3,8%.

Pertumbuhan positif industri hotel Bali tak lepas dari tingginya jumlah turis asing yang berkunjung. Irina menegaskan pertumbuhan wisata di Bali menunjukkan hasil yang stabil dan positif, menjadikan 2025 sebagai puncak industri pariwisata pasca pandemi COVID-19.

“Kami mencatat pemulihan berkelanjutan dan positif pasca pandemi. Bali merupakan salah satu pasar paling berhasil selama pandemi, dan tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan serupa di sektor hotel,” pungkasnya.

Sebelumnya, industri hotel Jakarta sempat tumbuh hingga Juni 2025, namun okupansi menurun dibandingkan tahun lalu.

Penurunan ini dipengaruhi ketidakstabilan ekonomi serta pengetatan anggaran pemerintah yang membatasi penggunaan hotel untuk kegiatan resmi.

Sebaliknya, Bali mencatat tren positif dengan kedatangan 3,3 juta wisatawan asing di paruh pertama 2025, yang turut meningkatkan ekonomi lokal sekaligus mendorong pertumbuhan industri hotel.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!