Sejarah Taiwan dan Kerja Sama dengan Amerika yang membuat China Memanas
Oleh: Ridwan Azhari Akbar
(Mahasiswa S1 Prodi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Sejarah Republik Tiongkok atau yang lebih sering di dengar Taiwan berawal dari pedagang dan nelayan Cina daratan yang bermigrasi pada abad ke-17, pada abad yang sama tepatnya tahun 1624 VOC mendirikan basis militer dan perdangangan di Asia pada wilayah Taiwan, tetapi kehadiran VOC juga membuat Spanyol yang kala itu melihat kehadirannya di Taiwan sebagai ancaman bagi koloni mereka di Filipina, kemudian Spanyol menduduki pulau utara bagian Taiwan tetapi tak lama kemudian hadirnya mereka di gulingkan VOC pada tahun 1642.
Perang antara dinasti Qing melawan kekaisaran Jepang disebut dengan Perang Cina-Jepang I yang pada akhirnya usai pada 1895 dengan kalahnya angkatan laut Cina, lalu dinasti Qing menyerahkan Taiwan dan kepulauan Penghu kepada kekaisaran Jepang melalui penandatanganan perjanjian Shimonoseki
Setelah kekalahan Jepang di perang dunia II tahun 1945, Amerika Serikat menyerahkan daratan Taiwan kepada Jepang tanpa banyak memperhatikan klaim Taipei ataupun Beijing, pemerintah Jepang mengasumsikan kedaulatan atas kepulauan pada saat itu menolak kedua posisi Beijing dan Taipei, masalah wilayah tetap tidak aktif sampai tahun 1989 ketika Angkatan Laut Jepang mengusir beberapa nelayan Taiwan dari kepulauan tersebut. Pada tahun berikutnya Jepang membangun mercusuar di salah satu dari kepulauan tersebut.
Selanjutnya warga Taiwan protes dan menempatkan obor olimpiade pada salah satu dari kepulauan di rangkaian tersebut. Tahun 1992 badan legislatif China mengeluarkan undang-undang tentang laut teritorial yang menyatakan kepulauan tersebut adalah bagian dari otoritas Cina (Copper, 2009, hal. 2-4).
Republik Tiongkok yang telah menggulingkan dan menggantikan pemerintahan dinasi Qing tahun 1911 kemudian megambil alih Taiwan atas nama sekutu perang dunia dua, pada bulan september tahun 1945 pemerintah Republik Cina membentuk pemerintah provinsi Taiwan, dan pada tanggal 25 oktober 1945 diproklamasikan sebagai hari retrosesi Taiwan.
Selama Perang Dunia II pada tahun 1942, pimpinan Republik China Chiang Kai-shek bertemu dengan presiden AS Franklin Roosevelt dan Perdana menteri Inggris Winston Churchill, pertemuan tersebut mencetuskan deklarasi kairo yang menyatakan bahwa Taiwan dan kepulauan Penghu akan dikembalikan kepada Republik Cina.
Setelah berakhirnya perang dunia II dimana akhirnya pihak Jepang dan Jerman mengaku kalah, konflik di negeri cina ini ternyata belum selesai karena kemudian perang saudara antara Cina dan Taiwan yang sudah terjadi sejak 1927 pecah kembali, perang antara Partai Nasionalis Tiongkok atau Koumintang yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek dengan Partai Komunis Cina (PKC) yang dipimpin oleh Mao Zedong.
Setelah Komunis memperoleh kedaulatan atas Cina daratan tahun 1949 dan Komunis sebagai pemenang dalam perang tersebut, kemudian mendirikan Republik Rakyat Cina, lalu sebagian besar pemerintah nasionalis, militer, dan komunitas bisnis kala itu melarikan diri ke Taiwan dan menjadikan Taipe sebagai ibu kota sementara Republik Cina (Pristiandaru, 2021).
Taiwan merupakan negara dengan pengakuan terbatas dan bukan negara dari anggota PBB, karna posisinya telah digantikan dengan Cina pada tahun 1971 dan sebagian besar negara anggota PBB mengakui Taiwan adalah bagian dari Cina. Meskipun demikian Taiwan tetap menjalin hubungan diplomatik resmi dengan 14 negara dan banyak pula menjalin hubungan secara informal dengan negara lainnya.
Amerika serikat adalah negara yang penting bagi Taiwan Diantara seluruh negara lainnya. Hubungan ini terjalin dengan memiliki sejarah yang dimulai sejak Perang Dunia II dimana AS mempunyai perjanjian kerjasama pada bidang pertahanan hingga saat ini.
Selama perang saudara Tiongkok yang berlangsung setelahnya, AS terus mendukung Nasionalis dengan memberikan dukungan senjata dan finansial. Hingga tahun 1965, total bantuan AS mencapai U$1.5 miliar, angka ini lebih besar jika dibandingkan dengan bantuan yang diberikan AS kepada negara lain yang tidak sedang dalam menghadapi situasi perang. Selama bertahun-tahun, AS menjadi mitra perdagangan dan sumber modal investasi paling besar bagi Taiwan (Copper, 2009, hal. 202).
Amerika Serikat dan Taiwan menandatangani perjanjian pertahanan yang memberikan perlindungan kepada Taiwan, dan AS juga memberikan dukungan politik agar Taiwan tetap bisa menjadi anggota PBB dan mewakili Tiongkok di forum global selama lebih dari dua dekade setelah Nasionalis pindah ke Taiwan.
Pada tahun 1992, Presiden George H.W. Bush menerapkannya kebijakan sebagai Presiden yang menolak kerjasama kemitraan strategis dengan Cina karena melihat Cina sebagai America enemy. Ia juga menyetujui penjualan pesawat tempur F-16 untuk Taiwan sebagai bagian dari kerja sama strategis.
Alasannya AS mengubah arah strategi pertahanannya dari Eropa menjadi fokus pada Asia Pasifik sebagai bentuk counter terhadap kekuatan militer Cina, Cina terus meningkatkan pembelian persenjataan dari Rusia sehingga Amerika melihat hal ini sebagai ancaman untuk mereka, tidak hanya untuk Taiwan tetapi juga ancaman bagi stabilitas keamanan di Asia.
Lalu AS juga keberatan terhadap wacana Uni Eropa untuk mencabut embargo penjualan persenjataan kepada Cina karena AS merasa khawatir jika hal ini semakin meningkatkan persenjataan Cina akan dengan mudah menyerang Taiwan.
Amerika Serikat melakukan deterrence kepada Cina sehingga tidak dapat menyerang Taiwan secara langsung (Copper, 2009, hal. 206-207) (Wabiser). Meskipun AS telah mengikuti kebijakan “One China Policy” sejak 1979. Dalam beberapa tahun terakhir kunjungan para pejabat Taiwan ke AS telah meningkat, hal ini menunjukkan pentingnya hubungan antara kedua negara tersebut terbukti dengan komitmen atas perjanjian “Taiwan Relations Act” tahun 1979 untuk meningkatkan hubungan diplomatik, kerjasama ekonomi, militer.
Dapat disimpulkan dari peristiwa diatas bahwa kondisi geopolitik antara Taiwan dan Amerika Serikat dengan Cina memanas dan menimbulkan Security dilemma Sejak kemerdekaan Taiwan dari Tiongkok pada tahun 1949, hubungan antara keduanya selalu tegang karena Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Tindakan Amerika Serikat dalam memperkuat hubungan dengan Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman oleh Cina dan memancing respon yang dapat meningkatkan kemampuan militer Cina yang kemudian membeli persenjataan dari Rusia. Cina bahkan mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk memaksa Taiwan bergabung kembali jika Taiwan secara resmi menyatakan kemerdekaannya. Oleh karena itu, Amerika Serikat dan Taiwan harus terus berhati-hati dalam setiap tindakan agar tidak memperburuk ketegangan mereka dengan Tiongkok.
Referensi
Copper, J. F. (2009). TAIWAN Nation-State or Province? Fifth Edition. United States of America: Westview Press.
Pristiandaru, D. L. (2021, November 26). Sejarah Taiwan, dari Kedatangan Bangsa Asing hingga Era Modern. Retrieved from Kompas.com: https://internasional.kompas.com/read/2021/11/26/120100970/sejarah-taiwan-dari-kedatangan-bangsa-asing-hingga-era-modern?page=all
Wabiser, Y. M. (n.d.). THE SINO – US RELATIONSHIP : STUDI KASUS KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT TERHADAP ONE CHINA POLICY. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana.
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




