Media Arahbaru
Beranda Berita 7 Buku Pramoedya Ananta Toer Rekomendasi Redaksi Arahbaru

7 Buku Pramoedya Ananta Toer Rekomendasi Redaksi Arahbaru

Pramoedya Ananta Toer. Gambar: VOI

Buku PramoedyaPramoedya Ananta Toer baru saja berulangtahun. Enam Februari 1925, ia lahir di Blora, Jawa Tengah. Seandainya masih hidup, ia sudah berumur 100 tahun.

Pramoedya merupakan salah satu penulis terbesar dalam sejarah literasi nusantara. Buku-bukunya tidak hanya mempengaruhi masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.

Sebagai penulis yang produktif, Pram mendapatkan banyak penghargaan, antara lain dari Ramon Magsaysay Award pada 1995. Menariknya, penghargaan ini mendapat tentangan dari 26 tokoh sastra Indonesia.

Mengutip dari kompas.com, alasan penolakan itu adalah Pramoedya merupakan aktivis Lekra yang keras. Mochtar Lubis bahkan menyebut Pram adalah pemimpin penindasan terhadap sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Penghargaan lain di anataranya PEN/Barbara Goldsmith Freedom untuk penghargaan menulis (1988), The Fund untuk Penghargaan Kebebasan Berekspresi, New York, USA (1989).

English P.E.N Centre Award, Great Britain (1992), Stichting Wertheim Award, Netherland (1992), Doctor Honoris Causa dari Universitas Michigan (1999), Chancellor’s Distinguished Honor Award dari Universitas California, Berkeley (1999).

Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres Republic of France (2000), 11th Fukuoka Asian Culture Prize (2000), Norwegian Authors’ Union award untuk kontribusinya dalam dunia sastra dan perjuangannya untuk kebebasan berekspresi (2004), Pablo Neruda Award, Chile (2004), dan Global Intellectuals Poll dari Prospect (2005).

Buku Pramoedya Ananta Toer

Mengutip dari Tempo, sepanjang hayatnya, Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing.

Beberapa bukunya, hingga kini masih mudah untuk diakses, ditemui di toko-toko buku. Namun, tidak sedikit pula yang sudah sulit ditemui.

Berikut ini adalah 7 buku terbaik Pramoedya Ananta Toer versi redaksi arahbaru.com:

Arus Balik

Arus Balik merupakan novel sejarah yang menceritakan Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara. Tokoh utama dalam novel ini adalah Wiranggaleng, seorang pemuda desa yang ikut berjuang dalam Invasi ke Malaka yang dipimpin oleh Pati Unus.

Bumi Manusia

Buku Pramoedya yang paling terkenal adalah Bumi Manusia. Buku ini adalah buku pertama dari tetralogi buru. Bumi Manusia pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980. Tokoh Utama dalam buku ini adalah Minke, salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS.

Dalam buku ini, Minke digambarkan sebagai seorang yang revolusioner, berani melawan ketidakadilan terhadap bangsanya. Minke menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Annelies, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Mellema.

Anak Semua Bangsa

Buku ini merupakan seri kedua dari tetralogi buru. Anak Semua Bangsa ini menceritakan kegelisahan Minke melihat ketidakberdayaan warga pribumi melawan penjajahan. Perjalanannya ke Tulangan, Sidoarjo, Bersama Nyai Ontosoroh, menggugah kesadaran minke untuk membela warga pribumi. Pada edisi ini, Minke diceritakan mulai menulis di surat kabar.

Jejak Langkah

Jejak Langkah merupakan buku ketiga dari tetralogi buru. Buku ini menjelaskan fase pengorganisasian perlawanan. Minke, tokoh Utama dalam buku ini, tidak memilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan menulis di koran-koran. Yang paling terkenal adalah Medan Prijaji.

Rumah Kaca

Seri Rumah Kaca ini merupakan penutup dari tetralogi buru. Berbeda dengan tiga buku sebelumnya, Rumah Kaca tidak mengambil tokoh Utama Minke. Tokoh utama dalam buku ini adalah Jacques Pangemanann, seorang polisi kolonial Belanda yang mendapat tugas untuk mengawasi Minke.

Arok Dedes

Buku ini menceritakan sejarah perlawanan dan pemberontakan Ken Arok terhadap pemerintahan Akuwu Tumampel, Tunggul Ametung. Dalam buku ini, Pram memberikan perspektif baru tentang sejarah Ken Arok. Ken Arok digambarkan sebagai seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas.

Bukan Pasar Malam

Buku novel ini tidak setebal buku-buku di atas. Bukan Pasar Malam hanya bertebal 104 halaman. Namun, kisah dalam buku akan membuat pembaca betah berlama-lama membaca hingga tuntas dalam seketika duduk.

Bukan Pasar Malam menceritakan seorang anak revolusi yang harus pulang kampung karena ayahnya sakit. Di Wikipedia, Bukan Pasar Malam ditulis sebagai novel yang bernuansa religius, beraura mistik, dan mengandung pergulatan eksistensial diri manusia ketika berhadapan dengan maut.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!