Media Arahbaru
Beranda Berita Banten dalam “Kilas Pandang Sejarah”

Banten dalam “Kilas Pandang Sejarah”

Oleh R. Asyam Shobir Muyassar (Direktur Purbajati Art Institute, Pemerhati Kebudayaan Indonesia)

Arahbaru.com – KILAS PANDANG SEJARAH | Kalau melihat sejarah Banten, selain nama besar sang pendiri yakni Sultan Maulana Hasanuddin putra Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, terdapat beberapa nama tokoh pempimpin Banten yang berkat visi dan strategi politiknya, mampu membawa kesultanan Banten menjadi sebuah kesultanan yang sangat disegani oleh kekuatan asing atau para penjajah yang pada saat itu -awal abad ke-16- tengah gencar-gencarnya mencari sumber kekayaan alam di negeri-negeri timur jauh (baca: Nusantara) untuk dipasok kembali ke negara asalnya.

Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis Hudaya Latuconsina, seorang tokoh yang aktif di lembaga pendidikan dan jaringan sosial kemasyarakatan di wilayah Banten dan beberapa daerah lainnya, dan pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten, Sejarah Banten mengenal dua tokoh yang visinya tentang pembangunan sangat hebat dan tindakannya sangat kreatif.

Kedua tokoh itu adalah Ranamanggala dan Sultan Ageng Tirtayasa. Ranamanggala memerintah Banten pada 1609 hingga di mskzulkam pada 1624 oleh persengkokolan para pedagang asing yang ada di Banten.

Dari abad ke-10 hingga abad ke-17, Banten adalah pelabuhan perdagangan Internasional terkemuka. Pengaruhnya mencapai Eropa, India, China, dan Timur Tengah.

Saat mulai melihat perilaku pedagang asing di Banten yang mengeruk kekayaan alam dengan serakahnya, mempraktikkan iklim perdagangan yang tidak sehat, Ranamanggala memerintahkan rakyatnya untuk menumpas dan melarang tanaman lada. Perdagangan bebas dihentikan.

Kekuasan negara ditegakkan. Lebih dari itu, ia mengembalikan visi agraris, mengajak rakyat untuk mengolah alam dengan baik.

Banten juga melahirkan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), seorang pemimpin besar yang melanjutkan visi agraris Ranamanggala dalam skala yang lebih luas.

Ia memerintahkan setiap orang menanam 100 pohon kelapa di pinggir sungai Cisadane. Secara total, ia merelokasikan sebanyak 20.000 warganya untuk membangun 10 desa yang rimbun dengan pohon kelapa di area seluas 5.000 hektare.

Secara strategis, permukiman-permukiman baru itu juga merupakan “benteng pertahanan” yang menyangga wilayah perbatasan dengan Batavia, yang ketika itu semakin dikembangkan oleh kompeni Belanda dan merongrong Banten.

Sultan Ageng juga memerintahkan sekitar 5.000 orang warganya untuk menggali terusan sepanjang 6 kilometer yang menghubungkan Sungai Tanara dan Sungai Pasilian.

Terusan selebar 6 meter dengan kedalaman 4 meter itu kemudian disusul dengan pembuatan beberapa terusan serta bendungan lagi, dan kincir air. Itu dimaksudkan sebagai sarana transmigrasi dan irigasi bagi sawah-sawah baru yang dibuat secara kolosal.

Hasil panennya dari areal persawahan (Serang) itu biasa mengisi lumbung-lumbung padi negara sebanyak 80 metrik ton pada 1664 (Massardi, 2009). (*)

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!