Media Arahbaru
Beranda News Alkisah : Perempuan dibalik Cermin Stasiun Tegal

Alkisah : Perempuan dibalik Cermin Stasiun Tegal

{“remix_data”:[],”remix_entry_point”:”challenges”,”source_tags”:[“local”],”origin”:”unknown”,”total_draw_time”:0,”total_draw_actions”:0,”layers_used”:0,”brushes_used”:0,”photos_added”:0,”total_editor_actions”:{},”tools_used”:{“transform”:1},”is_sticker”:false,”edited_since_last_sticker_save”:true,”containsFTESticker”:false}

Pada tahun 1987, stasiun kereta kecil di Tegal sempat direnovasi. Saat membongkar ruang arsip lama, pekerja menemukan cermin dinding tinggi berbingkai kayu jati, tertutup kain hitam dan diikat tali rafia tebal.

Di bagian belakang cermin, terselip surat tulisan tangan: “Jangan biarkan dia melihat jam 3 pagi. Kalau dia tahu waktunya tiba, dia akan keluar.” Ttd. Mas Sastro, petugas piket, 12 Agustus 1965 Cermin itu dipasang kembali di ruang tunggu utama tanpa diketahui siapa “dia” dalam surat itu.

Beberapa minggu kemudian, penumpang mulai melaporkan hal aneh: – Saat menunggu kereta malam, mereka melihat perempuan berbaju kebaya putih berdiri di balik pantulan cermin tapi saat menoleh, tak ada siapa-siapa di belakangnya.

Yang paling menyeramkan: bayangan itu tidak meniru gerakan penumpang. Ia punya gerak sendiri kadang menyisir rambut, kadang menatap jam dinding lalu menggeleng pelan. Suatu malam, seorang petugas keamanan iseng menyalakan lampu senter tepat pukul 03.00 dan mengarahkannya ke cermin.

Dalam sekejap, cermin itu berembun dari dalam, meski suhu ruangan kering. Lalu, terdengar bisikan pelan: “Akhirnya.. kau datang menjemputku?” Esok harinya, petugas itu hilang.

Satu-satunya jejak: jam tangannya tergeletak di lantai, jarumnya macet di angka 3. Sejak itu, cermin itu diturunkan dan disimpan di gudang. Tapi para petugas lama masih percaya: “Setiap tanggal 12 Agustus, kalau ada kereta lewat jam 3 pagi, bayangan itu muncul di jendela menatap ke luar, seolah menunggu seseorang yang tak pernah datang.”

Konon, perempuan itu adalah istri seorang masinis yang dieksekusi diam-diam tahun 1965. Sebelum dibawa, ia berjanji pada suaminya:

“Aku akan tunggu kau di stasiun, sampai kereta terakhir lewat.” Tapi suaminya tak pernah kembali. Dan kereta terakhir… tak pernah benar-benar berhenti.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!