Media Arahbaru
Beranda News Alkisah: Kolor Ijo yang Mencari Istrinya

Alkisah: Kolor Ijo yang Mencari Istrinya

{“remix_data”:[],”remix_entry_point”:”challenges”,”source_tags”:[“local”],”origin”:”unknown”,”total_draw_time”:0,”total_draw_actions”:0,”layers_used”:0,”brushes_used”:0,”photos_added”:0,”total_editor_actions”:{},”tools_used”:{“transform”:1},”is_sticker”:false,”edited_since_last_sticker_save”:true,”containsFTESticker”:false}

Di sebuah gang sempit di kawasan Semarang Tua, tahun 2004, warga mulai resah. Setiap malam antara pukul 01.00–03.00, terdengar suara klotok-klotok dari atap rumah—seperti seseorang melompati genteng sambil menyeret kain basah. Anak-anak menjerit, ibu-ibu menutup jendela rapat-rapat.

Tapi yang aneh: tidak ada yang diganggu. Tidak ada yang dicabik, tidak ada yang digoda. Kolor Ijo itu hanya berhenti di atas rumah Bu Lestari, janda tua yang tinggal sendiri sejak suaminya—seorang tukang becak—menghilang tahun 1998.

Suatu malam, Bu Lestari penasaran. Ia diam-diam membuka jendela kamarnya sedikit. Di bawah cahaya rembulan, ia melihat sesosok tubuh kurus menjulang, kulitnya pucat kehijauan, rambut panjang menutupi wajah, dan… memakai celana dalam wanita warna hijau lumut—robek di bagian pinggang, bertuliskan nama: “Sri”.

Kolor Ijo itu tidak menoleh. Ia hanya meletakkan bunga melati basah di ambang jendela Bu Lestari, lalu berbisik dengan suara serak seperti orang menahan tangis: “Kamu juga sendiri, ‘kan? Tapi kamu masih punya foto… aku bahkan tak punya kuburan.”

Esok harinya, Bu Lestari mencari tahu. Dari arsip koran lama, ia menemukan berita kecil tahun 1997:

“Mayat Wanita Tak Dikenal Ditemukan di Sungai Banjir Kanal—Diduga Korban Penculikan. Memakai celana dalam hijau, bertuliskan ‘Sri’.”

Tak ada yang mengklaim jenazah itu. Akhirnya dikuburkan sebagai “Nyai Roro Tanpa Nama” di pemakaman umum.

Sejak malam itu, Bu Lestari mulai menyediakan air kembang dan satu potong kue apem di depan rumahnya setiap malam Selasa Kliwon. Dan suara klotok-klotok tak pernah lagi terdengar marah—malah seperti langkah hati-hati, seolah makhluk itu berterima kasih.

Tapi warga lain tetap takut. Hingga suatu malam, seorang remaja iseng melempar batu ke atap sambil mengejek:

“Hei, Kolor Ijo! Cari istri, bukan cari nenek!”

Malam itu, remaja itu ditemukan tergantung di ventilasi kamarnya sendiri, tapi bukan bunuh diri—tali yang dipakai adalah kain panjang berwarna hijau, dan di lehernya terselip secarik kertas:

“Jangan hina yang kesepian. Kesepian lebih tajam daripada cakar.”

Sejak itu, tak ada yang berani menertawakan Kolor Ijo di kampung itu. Karena mereka sadar: Bukan semua hantu ingin mengganggu. Ada yang hanya ingin diingat.(*)

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!