Fadli Zon Bantah Isu Prabowo Ingin Hidupkan Militerisme
Arah Baru – Politikus Partai Gerindra, Fadli Zon, menanggapi isu yang menyebut Presiden Prabowo Subianto ingin mengembalikan praktik militerisme. Ia menegaskan anggapan tersebut tidak sesuai dengan karakter dan rekam jejak Prabowo.
“Pak Prabowo memilih jalan demokrasi, masuk partai politik, lalu membangun partai politik, ikut kontestasi politik, kalah dan menang. Dilakukan berpuluh tahun, jalan yang beradab (civilized),” kata Fadli Zon kepada wartawan, Selasa (6/1/2025).
Sebagai Menteri Kebudayaan, Fadli mengaku telah lama mengikuti perjalanan Prabowo dan menyatakan fokus utama Presiden adalah kesejahteraan masyarakat. Ia menilai Prabowo memiliki gaya kepemimpinan tegas demi mempercepat terwujudnya kepentingan rakyat.
“Saya jadi salah seorang saksi perjalanan itu sejak saya kenal beliau lebih dari 30 tahun, yang dipikirkannya hanya kesejahteraan dan kebaikan bagi rakyat, dan harus cepat terealisasi. Kadang harus memotong jalan panjang birokrasi,” katanya.
Fadli kembali menekankan bahwa kepemimpinan kuat yang dijalankan Prabowo tidak dapat disamakan dengan militerisme. Menurutnya, ketegasan diperlukan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Beruntung kita punya kepemimpinan yang kuat di saat dunia sedang bergejolak. Strong leadership bukan berarti militerisme apalagi dictatorship,” tegasnya.
Isu mengenai tudingan Prabowo ingin menghidupkan kembali militerisme sebelumnya disinggung langsung oleh Prabowo dalam perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor GBK, Senayan, Jakarta, Senin (5/1). Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut adanya pihak-pihak yang menuduh dirinya membawa kembali militerisme.
Prabowo mengawali pernyataannya dengan menegaskan bahwa kritik adalah hal yang wajar dan harus diterima oleh siapa pun, termasuk dirinya. Ia bahkan menyatakan rasa terima kasih atas setiap kritik yang disampaikan.
Ia lalu memberi contoh pengalaman pribadi saat ditegur ajudannya karena penampilan yang kurang rapi. Meski sempat merasa kesal, Prabowo mengaku bersyukur karena diingatkan.
Pada momen tersebut, Prabowo menyinggung kritik yang menyebut dirinya ingin menghidupkan militerisme. Ia mengatakan tudingan itu justru mendorong dirinya untuk melakukan koreksi dan memastikan batas-batas kepemimpinan yang tidak melampaui nilai demokrasi dengan melibatkan para ahli hukum.
“Jadi saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: ‘Prabowo ini mau hidupkan lagi militerisme’. Wah, baru saya koreksi, apa bener? Oke baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana, iya kan? Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” ucap Prabowo.
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




