Media Arahbaru
Beranda Berita Keyakinan Kejawen pada Kematian dan Alam Baka

Keyakinan Kejawen pada Kematian dan Alam Baka

Dok Istimewa : R. Asyam Shobir Muyassar (Direktur Purbajati Art Institute, Pemerhati Kebudayaan Indonesia)

Arahbaru.com | Orang Jawa berkeyakinan bahwa tidak lama setelah orang meninggal, rohnya akan berubah menjadi mahluk halus yang berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya. Mahluk halus itu lama-kelamaan akan pergi pada saat tertentu, saat keluarga mengadakan slametan.

Roh yang tidak mendapat tempat di alam roh karena tingkah lakunya tidak baik semasa hidup, atau karena meninggal tidak wajar, akan menjadi roh penasaran pengganggu manusia.

Apabila mahluk halus itu karena hasrat dan keinginannya terlalu banyak, serta perbuatan semasa hidupnya penuh dengan kemaksiatan atau keburukan, maka ia akan diantarkan ke dalam kawah neraka.

Jika terlalu banyak dosa, maka mahluk halus itu akan terperosok lebih dalam masuk ke bumi kapindho, dan dilahirkan kembali sebagai binatang.

Setelah mengalami kematian lagi, dia akan berada masuk ke bumi katelu, lalu dilahirkan lagi sebagai tanaman, Kemudian setelah mati lagi dia akan berada di bumi kapapat sebagai pohon, selanjutnya dia menghuni batu.

Dan dia akan dihukum lama pada bumi kapitu, kemudian dilahirkan lagi sebagai manusia yang melupakan segala masa lampau dan memperoleh kesempatan untuk lebih baik lagi.

Orang meninggal yang semasa hidupnya baik, maka rohnya akan berada di Kamaloka, yaitu alam yang selalu diliputi oleh kesenangan nafsu indrawi hingga 40 hari setelah meninggalnya.

Setelah itu memurnikan dirinya dan mempersiapkan diri masuk ke surga pertama pada hari ke-100 setelah meninggal.

Apabila ada kerabat yang masih hidup di dunia dan memanggilnya, maka mahluk halus itu menjadi lelembut dan berkeliaran di sekitar tempat tinggal manusia atau menjadi roh nenek moyang (arwah leluhur). Roh yang berhasil ke surga pertama akan menjadi lebih murni.

Pada hari ke-1000 setelah meninggal, roh itu akan masuk ke dalam surga kedua. Proses ini terjadi berulang-ulang sehingga ia akan masuk surga ke tujuh dan mencapai keadaan sempurna.

KONSEP ARWAH PENASARAN

Roh yang masih berada di dalam dimensi ghaibnya bumi, dan masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran karena masih ada tanggungjawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang” yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran.

Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi ghaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup, yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur.

Itulah sebabnya mengapa di dalam tradisi Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan” arwah (penasaran) tersebut.

Dalam upacara penyempurnaan arwah menurut tradisi Jawa dikenal dengan uborampe Tumpeng Pungkur. Dilakukan pada saat kematian seseorang, dan pada hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100, ke setahun, hingga hari ke 1000-nya setelah kematian.

Oleh : R. Asyam Shobir Muyassar (Direktur Purbajati Art Institute, dan Pemerhati Kebudayaan Indonesia)

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!