Fri. Feb 23rd, 2024

KH Abdul Wahid Hasyim, Ulama Penggagas Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

KH Abdul Wahid HasyimKH Abdul Wahid Hasyim. Foto: Wikipedia

Arahbaru – KH Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu ulama besar di Indonesia. Ia adalah pahlwan nasional dan Menteri Negara Urusan Agama dalam kabinet pertama Indonesia.

Ia lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914. Ayahnya adalah salah satu ulama besar dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Ibunya bernama Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas.

Wahid Hayim menikah dengan Solichah, putri KH Bisri Syansuri dan dikaruniai enam anak, yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Aisyah Hamid Baidlowi, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), dr. Umar Wahid, Sp.P., Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid.

Masa Kecil

Sejak kecil, Wahid Hasyim dikenal sebagai sosok anak yang cerdas. Ia sudah khatam al-Qur’an pada usia tujuh tahun.

Sebagai anak dari seorang ulama yang anti-sekolah yang didirkan penjajah, Wahid Hasyim  tidak menempuh pendidikan sekolah dasar di sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, yaitu Hollandsch-Inlandsche School.

Pendidikanya dimulai dengan belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pada usia 12 tahun, ia diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adiknya dan anak-anak seusianya.

Selanjutnya pada usia 13 tahun, Wahid Hasyim belajar di Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Setelah setahun di Siwalan, ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Di pondok pesantren ini pun, ia hanya bertahan dalam waktu yang singkat. Akhirnya, pulang untuk belajar mandiri di rumahnya sendiri.

Abdul Wahid Hasyim mempelajari bahasa Arab hingga mahir. Setelahnya ia mempelajari alfabet Latin sekaligus belajar bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Pada tahun 1932 ia belajar di Makkah bersama sepupunya, Muchammad Ilyas, ialah yang mengajari Wahid dalam belajar Bahasa Arab hingga ia fasih berbahasa Arab. Sehingga ia menguasai tiga bahasa asing, yakni Arab, Inggris, dan Belanda

Karir Politik

Selain dikenal cerdas dalam bidang keilmuan, Wahid Hasyim juga dikenal sebagai sosok organisatoris.

Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-19 di Palembang pada tahun 1951.

Selain di PBNU, ia juga aktif di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), federasi organisasi massa dan partai Islam saat itu. MIAI sendiri merupakan nama mula dari Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Saat pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1943, Wahid Hasyim ditunjuk sebagai ketua partai.

Wahid Hasyim mempunyai peran yang tidak bisa diremehkan dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI saat usianya masih 23 tahun.

Ia juga berperan dalam merumuskan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam Pancasila. Sila tersebut sebagai pengganti dari bunyi rumusan “Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”.

Seperti diketahui rumusan sila pertama tersebut ditolak oleh penduduk Indonesia yang beragama non-muslim. Mereka berpandangan tidak hanya umat Islam saja yang ikut berperan dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia, namun dari berbagai pihak.

Kemudian Wahid mengusulkan diubahnya sila pertama yang berbunyi “Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Gagasan tersebut menunjukkan sosok Wahid Hasyim sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif.

Wahid Hasyim menjadi Menteri Negara Republik Indonesia periode 1945–1949. Jabatan ini merupakan hasil penunjukan langsung oleh Presiden Soekarno.

Kemudian ia menjadi Menteri Agama selama tiga periode kabinet secara berurutan. Periode pertama yaitu Kabinet Hatta mulai pada 20 Desemnber 1949 hingga 6 September 1950.

Periode kedua yaitu Kabinet Natsir sejak 6 September 1950 hingga 27 April 1951. Periode ketiga dalam Kabinet Sukiman mulai 27 April 1951 hingga 3 April 1952.

Selama menjadi Menteri Agama, Wahid Hasyim telah membentuk beberapa program, diantaranya:

1. Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta.

2. Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950.

3. Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia.

4. Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam Kementerian Agama.

Wafat

KH. Wahid Hasyim wafat pada usia yang masih sangat muda, 37 tahun. Ia mengalami kecelakaan mobil di jalan yang menghubungkan Kota Cimahi dan Kota Bandung pada 19 April 1953.

Perjalanan itu ia tempuh dalam rangka menghadiri rapat Nahdlatul Ulama di Kabupaten Sumedang.

Wahid Hasyim tidak sendirian saat melakukan perjalanan. Ia ditemani sopir, Argo Sutjipto dan dan anaknya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Saat kecelakaan, Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto mengalami luka parah hingga akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. Sementara sang sopir dan Gus Dur tidak mengalami luka yang serius.

Jenazah Wahid Hasyim kemudian dibawa ke Jakarta untuk diterbangkan ke Surabaya untuk kemudian di semayamkan di  pemakaman keluarga di Pondok Pesantren Tebuireng. (*)

By Nasir

Related Post

One thought on “KH Abdul Wahid Hasyim, Ulama Penggagas Sila Ketuhanan Yang Maha Esa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ads Blocker Image Powered by Code Help Pro

Ads Blocker Detected!!!

We have detected that you are using extensions to block ads. Please support us by disabling these ads blocker.

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!