Media Arahbaru
Beranda Berita Biografi Tokoh: Gus Dur, Seorang Ulama, Jurnalis, dan Politisi

Biografi Tokoh: Gus Dur, Seorang Ulama, Jurnalis, dan Politisi

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Daftar isi:

[Sembunyikan] [Tampilkan]

Biografi tokoh pada kesempatan ini menampilkan KH Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Ia adalah tokoh politik Indonesia yang menjadi Presiden Indonesia ke-4 pada tahun 1999 hingga tahun 2001.

Selain sebagai presiden, Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh muslim yang berpengaruh di Indonesia, terutama karena perannya sebagai Ketua Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Gus Dur lahir pada tanggal 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam gerakan kemerdekaan Indonesia.

Sementara ibunya, Siti Sholehah, merupakan putri dari seorang ulama terkemuka di Jawa Timur.

Pendidikan

Melansir dari Gramedia, Gus Dur menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1953. Setelah itu, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta.

Gus Dur melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Gowongan, sekaligus menetap di Pesantren Krapyak.

Yang menarik, SMEP merupakan sekolah formal yang dikelola oleh Gereja Katolik Roma. Sekolah tersebut banyak menggunakan kurikulum yang sekuler, dan dari sekolah tersebut Gus Dur pertama kali belajar bahasa Inggris.

Tidak lama di Pesantren, Gus Dur meminta pindah ke kota. Ia merasa kurang leluasa aktivitasnya selama berada dalam dunia pesantren.

Di kota, Gus Dur menetap di Rumah H. Junaedi yang merupakan salah seorang pimpinan lokal Muhammadiyah sekaligus orang yang sangat berpengaruh di SMEP.

Rutinitas kesehariannya setelah shalat subuh Gus Dur berangkat mengaji ke KH. Maksum Krapyak.

Pada siang harinya, Gus Dur sekolah di SMEP dan malam hari Gus Dur ikut berdiskusi dengan H. Junaedi dengan anggota Muhammadiyah yang lain.

Setelah dari Yogyakarta, Gus Dur melanjutkan Pendidikan ke pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah pimpinan KH. Chaudhary.

Gus Dur pun dikenal dengan ritual-ritual sufi yang mistik dengan bimbingan kiainya. Dari situlah Gus dur sering melakukan ziarah ke kuburan-kuburan para wali yang keramat di Pulau Jawa.

Setelah menghabiskan waktu selama dua tahun di Pesantren Tegalrejo, Magelang, kemudian berpindah kembali ke Jombang dan menetap di pesantren Tambak Beras.

Di Pesantren Tambak Beras, Gus Dur menjadi ustad sekaligus menjadi ketua keamanan di Pesantren milik pamannya yaitu KH. Abdul Fatah.

Dari Timur Tengah ke Eropa

Saat usianya 22 tahun, Gus Dur berangkat menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuju Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar.

Di Mesir, Gus Dur banyak menghabiskan waktu menonton film Eropa dan Amerika. Dia juga suka menonton pertandingan sepak bola.

Selain kuliah, di Mesir, Gus Dur juga bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat bekerja, Indonesia sedang bergejolak karena peristiwa Gerakan 30 September.

Saat kejadian itu, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah itu diberikan ke Gus Dur yang ditugaskan menulis laporan tersebut.

Di Universitas Al-Azhar, Gus Dur tidak menyelesaikan pendidikannya. Ia tidak cocok dengan metode pembelajaran di universitas tersebut.

Ia kecewa dengan model pembelajaran di sana. Ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode yang digunakan kampus.

Dari Mesir, petualangan ilmiahnya berlanjut ke Irak. Ia kuliah di Universitas Baghdad. Pada tahun 1970, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad.

Setelah lulus dari Universitas Baghdad, Gus Dur ingin melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden.

Namun, ia kecewa karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1971.

Ulama, Jurnalis, dan PBNU

Setelah kembali ke Indonesia, Gus Dur terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi kemasyarakatan, terutama yang berhubungan dengan keagamaan.

Ia bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Organisasi ini terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah yang bernama Prima dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut.

Karir jurnalis Gus Dur berlanjut di Majalah Tempo dan Koran Kompas. Di dua media tersebut, tulisan-tulisan Gus Dur dapat diterima dengan baik.

Selain menjadi jurnalis, sepulang dari luar negeri, Gus Dur juga mengabdi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia menjabat sebagai Sekretaris Umum dari tahun 1974 hingga 1980.

Pada tahun 1980, Gus Dur menjabat sebagai seorang Katib Awwal PBNU hingga pada tahun 1984. Karir di PBNU semakin meroket saat ia terpilih sebagai Ketua Dewan Tanfidz atau Ketua Umum PBNU pada 1984.

Kemudian pada Muktamar 1989, Gus Dur kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Pada masa jabatan yang kedua inilah, Gus Dur sempat berselisih dengan rezim Soeharto. Akibatnya, Gus Dur sempat dijegal oleh rezim Orde Baru dalam pemilihan Ketua NU pada 1994.

Namun, pengaruh Orde Baru tidak cukup mampu untuk menahan laju Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU hingga tiga periode.

Sebaliknya, Orde Baru dan Soeharto harus tumbang pada Mein1998 karena demonstrasi besar-besaran yang dimotori oleh para mahasiswa.

Presiden RI

Setelah Orde Baru dan Soeharto tumbang, iklim demokrasi di Indonesia berubah. Muncul partai-partai baru dengan beragam latar belakang.

Gus Dur pun tak ketinggalan. Bersama para ulama di NU, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk ikut pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1999.

PKB mendapat suara yang cukup signifikan dengan meraih suara terbanyak ketiga. Namun, jumlah kursi di DPR, PKBdi bawah PDIP, Golkar, dan PPP.

Pada pemilihan presiden, PKB masuk dalam poros tengah bersama Partai Amanat Nasional (PAN), PPP, PK, dan Partai Bulan Bintang. Mendapat suara terbanyak, Gus Dur berhasil mengalahkan Ketua Umum PDIP Megawati.

Tanggal 20 Oktober 1999, Gus Dur resmi menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden Indonesia yang keempat.

Namun, masa pemerintahan Gus Dur tidak bertahan lama. Ia hanya bertahan kurang dari dua tahun. Gus Dur dilengserkan dari jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 23 Juli 2001.

Dilengserkan dari kursi presiden, tidak serta merta pengaruh Gus Dur luntur. Gus Dur tetap menjadi tokoh dan politisi yang dihormati.

Ia dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan keadilan, toleransi, dan demokrasi, serta selalu menghargai perbedaan.

Dan pada hari ini, 13 tahun yang lalu, Gus Dur meninggal dunia. Ia dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!