Dari Jalinan Kesetaraan Gender Menuju Lingkungan Sekolah Bebas Agresi
Oleh : Ugha Anugrah, Mahasiswa Magister Bimbingan Konseling UNJ
Perilaku agresi berupa bulliying oleh remaja di sekolah tidak hanya menjadi masalah di Indonesia melainkan turut diakui sebagai masalah umum yang terjadi di sekolah-sekolah yang ada di dunia (Arabkhazayi et al., 2020; Donoghue & Pascoe, 2023), karenanya perlu keseriusan untuk menyikapi nya.
Dikatakan remaja apabila pada rentan usia 10-19 tahun ditandai dengan adanya perubahan pada fisik, sosial, dan bahkan emosional sehingga rentan terkena masalah atau bahkan membuat masalah. Karena didasari hal tersebut maka remaja kesulitan dalam mengekspresikan emosi yang dimiliki, kemudian mencari orang lain yang dia anggap dapat di dominasi dengan memberikan perundungan tanpa merasa ia telah melakukan kesalahan terhadap korbannya (Isaksson et al., 2020; Zhang et al., 2020).
Namun minimnya pengetahuan pelaku Bulliying terkait resolusi terhadap masalah yang dilakukan, maka rentan untuk melakukan bolos pada saat pembelajaran berlangsung, tidak terjalin komunikasi yang baik dengan teman sekelas, dan bahkan dapat putus sekolah.
Baca Juga : Freud, Bapak Psikoanalisis Yang Meninggalkan Hipnosis
Lebih lanjut, teman sebaya turut berpengaruh atas tindak perilaku agresi sebagaimana yang dikatakan oleh Brechwald dan Prinstein dalam (Zhang et al., 2020) bahwa remaja awal cenderung berafiliasi kepada teman yang dianggap sama dengannya, oleh sebab itu penting juga menaruh perhatian terhadap bagaimana remaja memperoleh dan mengembangkan perilaku agresif pada relasi sosialnya(Bass et al., 2022).
Menyikapi hal tersebut, maka dibuatlah satu pendekatan yakni menjalin kesetaraan gender sebagai upaya membangun lingkungan sekolah yang bebas dari agresi dengan melakukan beberapa hal di antaranya melakukan rekayasa sosial berupa memberlakukan memperpendek jarak kesenjangan gender terhadap dominasi serta kendali terhadap jenis kelamin tertentu baik atas fasilitas sekolah, perhatian guru, bahkan struktur dalam kelas sebab apabila hal itu tetap terjadi maka dapat memicu tindakan agresif oleh salah satu jenis kelamin (Li et al., 2023).
Dengan tidak memperhatikan masalah gender di sekolah perilaku agresif terjadi dikarenakan adanya anggapan bahwa perempuan lemah dam hal itu memicu laki-laki melakukan kekerasan terhadapnya, kesenjangan gender dapat memicu terjadinya agresi (Grace et al., 2020). Misalnya, stereotip gender yang menganggap perempuan lemah dan tidak mampu memicu terjadinya kekerasan. Dengan memberikan kesempatan pada perempuan untuk menjadi pemimpin di sekolah dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Melalui kepemimpinan perempuan di lingkungan sekolah dapat mengurangi kesenjangan gender dalam pendidikan. Bahkan penelitian yang dilakukan (Akkaya & Bagieńska, 2022) menemukan bahwa kepemimpinan perempuan efektif untuk keberhasilan kelompok, untuk itu dapat pahami bahwa tidak salah menjadikan perempuan sebagai sosok pemimpin.
Pada proses pembelajaran berlangsung penting diingat untuk tetap memasukan bias gender dengan mengurangi kesenjangan, agar tidak memberikan ilustrasi bos pada sebuah perusahan mesti laki—laki atau aktifitas rumah tangga hanya diilustrasikan seorang perempuan yang sedang beres-beres rumah. Sebab dengan pemberian ilustrasi demikian justru menghasilkan kesan bahwa yang namanya perempuan selalu nya dilekatkan dengan hal domestik sedang pada laki-laki di dekatkan degan aktifitas yang berkaitan dengan hal-hal publish sebagaimana yang di tunjukan pada penelitian Gita Juliana, dkk. terdapat bentuk bias gender dalam pembelajaran sosiologi yang dapat diamati pada pengembangan RPP, proses pembelajaran, dan bahan ajar yang digunakan (Juliana et al., 2019).
Untuk itu perlu di hindari membentuk karakteristik khusus pada anak berdasarkan gender. Sehingga dengan melalui proses belajar mengajar dapat membantu mengurangi kesenjangan gender serta mencegah terjadinya agresi. Penggunaan ilustrasi berdasarkan kenyataan dapat mewujudkan lingkungan sekolah sadar gender. Sehingga menghasilkan peserta didik yang memahami baik laki-laki maupun perempuan dapat melakukan segala hal berdasarkan keinginan mereka.
Baca Juga : Pertolongan Kaum Stoa Pada Luka Hati
Terakhir, perwujudan lingkungan sekolah bebas agresi melalui pendekatan kesetaraan gender hanya dapat terwujud apabila kesetaraan gender diterapkan dalam lingkungan sekolah melalui pemberian pemahaman, kesempatan, dan memberlakukan pada proses pembelajaran. Melalui cara mengurangi kesenjangan gender yang terjadi dalam pendidikan, menghindari adanya upaya stereotip gender secara sengaja, dan dapat membantu memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa baik pada laki-laki ataupun perempuan dapat melakukan segala hal yang mereka inginkan berdasarkan pada minat dan bakatnya.
Sehingga merealisasikan kesetaraan gender di lingkungan sekolah, maka diharapkan tercipta lah lingkungan aman dan nyaman bagi semua siswa dan siswi dan terhindar dari perilaku agresif yang terjadi di sekolah karena akibat dengan sengaja memperlebar kesenjangan gender di sekolah.
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




