Kisah Hidup Pencipta Motif Batik Truntum, Permaisuri Sinuwun PB III
Arahbaru.com – Mas Roro Handawiyah atau Kanjeng Ratu Kencana atau yang lebih dikenal dengan julukan Kanjeng Ratu Beruk adalah Permaisuri Sri Sunan Pakubuwono III Raja Kraton Surakarta. Mas Roro Beruk adalah julukan beliau semasa masih menjadi Garwa Ampil / Garwa Selir.
Menurut kisah beliau adalah Pembawa Wahyu Kraton Surakarta. dari rahimnya terlahir raja : PB IV, Beliau masih keturunan dari Raden Patah Raja Kraton Demak Bintoro. dengan urutan sbb : Syech Ibrahim Asmara berputra Sunan Ampel, berputri Ratu Mas Panggung ( permaisuri R Patah ), berputra RM Alit, berputra Panembahan Djogorogo, berputra Ki Ageng Ampuhan, berputra Ki Ageng Karanglo, berputra Ki Ageng Tjutjuk Telon, berputra Ki Ageng Tjutjuk Depok, Berputra KiAgeng Tjutjuk Singowongso, berputra Kyai Kertimantjut, berputri Nyai Sutowijaya, berputra Kyai Tumenggung Wiroredjo, berputra Kanjeng Ratu Kencana

Kanjeng Ratu Kencana adalah keturunan keenam dari Ki Ageng Karanglo, yakni tokoh yang menyambut dan menyuguh Ki Gede Pemanahan dan Panembahan Senapati ketika hendak membuka Hutan Mentaok. Ia pula yang diramalkan oleh Sunan Kalijaga tidak akan dapat ikut menikmati kamukten ‘bahagia sejahtera’ di Mataram sampai keturunannya yang ke tujuh.
Namun ternyata ramalan Sunan Kalijaga ini tidak sepenuhnya benar karena pada garis keturunan ke lima, yakni pada Kyai Tumenggung Wirareja, pulung atau keberuntungan untuk mukti di Mataram itu mulai menghampirinya.
Orang tua Kanjeng Ratu Beruk yaitu Wirareja pada awalnya adalah seorang penjual arang di daerah Coyudan, Surakarta. Ayahnya tinggal pada seorang kawannya yang pekerjaannya sebagai pelantun tembang macapat di Keraton Surakarta.
Pada suatu ketika pelantun tembang ini tidak dapat datang ke istana Surakarta karena sakit. Tugas melantunkan tembang itu pun digantikan oleh Wirareja .
Oleh karena tembangnya juga bagus, maka Wirareja pun diangkat menjadi pelantun tembang istana.
Bersamaan dengan itu anak perempuan Wirareja sering diajak serta sowan ke istana. Selang beberapa saat anak perempuannya ini masuk menjadi penari bedaya di istana. Pada suatu saat ia pun diambil sebagai permaisuri oleh Sunan Paku Buwana III atau Sinuwun Suwarga (1749-1788).
Bergelar Kanjeng Ratu Kencana. Gelar ini diduga menjadi gelar kesayangan yang diberikan kepadanya karena kencana dalam bahasa Jawa berarti emas. Ada pula dugaan bahwa gelar ini juga disesuaikan dengan warna kulitnya yang kuning bersinar seperti emas. Pengangkatannya menjadi permaisuri Sunan terjadi pada sekitar tahun 1762.
Beliau wafat dalam perjalanan pulang dari Imogiri di daerah Kecamatan Karang Nongko Klaten dan dimakamkan di daerah tersebut. Setelah beberapa waktu , jasad beliau dipindah ke Astana Imogiri , dimakamkan disamping suami tercinta di Kasuwargan Pajimatan Imogiri.

Para putra putri Kandjeng Ratu Kencana:
- Sunan Pakubuwana IV
2.Kanjeng Ratu Alit , menikah dengan KPH Prabu Mijaya menurunkan KGPAA MN II - GKR Maduretno
- GKR Purbonagara
- KGPH Buminata
- KGPH Mangkubumi
- GKR Kudus
MOTIF BATIK TRUNTUM
Kain Motif Batik Truntum dipakai oleh Orang tua Mempelai pada saat hari pernikahan.Motif Truntum mengandung doa, harapan, cinta kasih selalu mewarnai kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan perkawinan
Motif Truntum mempunyai arti filosofis cinta yang tulus bersemi kembali tanpa syarat, abadi dan senantiasa akan berkembang (tumaruntum)

Motif Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana ( Permaisuri Sinuwun Pakubuwana ke III )
Kisah berawal ketika Sang Permaisuri yang selama ini dicintai dan di sayang Sang Raja merasa dilupakan ketika Sinuwun mempunyai Garwa Ampil baru.
Untuk menghilangkan kesedihannya dan kesepian hatinya, pada suatu malam Sang Permaisuri duduk didepan Keputren tanpa sadar Beliau melihat bunga Tanjung yang berguguran di halaman Keputren ditengah gelapnya malam yang bertaburkan bintang seolah memperoleh ide maka kemudian diambil canting dan kain dan mulailah Sang Permaisuri membatik dengan motif perpaduan bunga tanjung dan cahaya bintang ditengah gelapnya malam.
” Ditengah kesedihannya dan kesendiriannya, Kanjeng Ratu Beruk berdiam diri dan membatik. Sang Ratu terpesona dengan keindahan bintang yang bersinar dan guguran bunga tanjung dihalaman keputren.
Beliaupun seperti mendapat secercah harapan di tengah kegelapan hidupnya. Lalu, harapan ini dituangkan dalam kain mori-nya (kain dasar batik)”
Ketekunan Sang Permaisuri dalam membatik menarik perhatian Sinuwun Pakubuwana III untuk melihat batik buatannya tersebut.Sejak saat itu Sinuwun Pakubuwana III selalu memantau perkembangan pembatikan Sang Permaisuri.
Dan sedikit demi sedikit kasih sayang Sinuwun PB III kepada Permaisurinya tumbuh kembali. Berkat motif tersebut Cinta Sang Raja kepada Kanjeng Ratu Kencana bersemi kembali. Maka kemudian motif tersebut dinamakan Truntum, sebagai lambang Cinta Sinuwun yang bersemi kembali.(*)
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




