Kisah Prabu Muyassar dan Cahaya Islam di Gunung Salak
Dahulu kala, jauh sebelum gemuruh modernisasi mencapai kaki Gunung Salak yang gagah perkasa, berkuasalah seorang raja bijaksana bernama Prabu Muyassar. Beliau bukan sekadar penguasa biasa.
kepemimpinannya dikenal adil, tutur katanya meneduhkan hati, dan kebijaksanaannya mengalir seperti air sungai yang jernih. Meskipun saat itu sebagian besar masyarakat masih menganut kepercayaan nenek moyang dan Hindu-Buddha, Prabu Muyassar telah merasakan bisikan kebenaran yang berbeda, sebuah bisikan yang datang dari negeri seberang.
Kisah lisan menyebutkan bahwa Prabu Muyassar bukanlah figur yang tiba-tiba muncul. Ia adalah salah satu murid yang paling disegani oleh Prabu Niskala Wastu Kancana, raja besar Kerajaan Sunda-Galuh yang terkenal dengan kebijaksanaan dan kemampuannya menjaga keharmonisan. Berkat kecerdasannya dan kedekatannya dengan nilai-nilai spiritual, Prabu Niskala Wastu Kancana menganugerahinya gelar kehormatan “Ki Gede Mulasar”. Di bawah bimbingan Prabu Niskala Wastu Kancana, Ki Gede Mulasar mendalami berbagai ajaran leluhur Sunda, memahami nilai-nilai spiritualitas yang kental dengan filosofi alam, serta peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungannya. Ia bahkan dipercaya memiliki peran signifikan dalam pemerintahan, membantu Prabu Niskala Wastu Kancana dalam mengembangkan ajaran dan nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi Kerajaan Sunda-Galuh.
Konon, suatu malam yang gulita, Ki Gede Mulasar bermimpi didatangi seorang sosok berjubah putih bersih dengan wajah bercahaya. Sosok itu, dalam mimpinya, membacakan ayat-ayat indah yang belum pernah ia dengar sebelumnya, menasihatinya tentang keesaan Tuhan, tentang pentingnya bersedekah, dan tentang persaudaraan sesama manusia. Ketika terbangun, hati Ki Gede Mulasar dipenuhi kedamaian yang luar biasa dan rasa ingin tahu yang membara.
Tak lama setelah mimpinya, sampailah seorang musafir dari tanah Arab ke wilayah kekuasaan Ki Gede Mulasar. Musafir itu bernama Syekh Subakir, seorang ulama yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Pertemuan antara Ki Gede Mulasar dan Syekh Subakir terasa seperti takdir. Mereka berdiskusi panjang, dan setiap jawaban dari Syekh Subakir seolah mengurai benang kusut dalam benak Ki Gede Mulasar. Ia menemukan kebenaran yang selama ini dicarinya dalam ajaran Islam, yang ia lihat memiliki keselarasan dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan spiritualitas yang telah ia pelajari dari gurunya, Prabu Niskala Wastu Kancana.
Dengan mantap, Ki Gede Mulasar mengucapkan syahadat, menyatakan keimanannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Setelah memeluk Islam, beliau memilih nama Muyassar, yang dalam bahasa Arab berarti “Yang Dimudahkan”. Nama ini dipilih karena beliau merasa begitu dimudahkan dalam mencapai nilai-nilai spiritual dan merasakan kedekatan yang luar biasa pada Sang Pencipta. Keputusan sang prabu untuk memeluk Islam tentu saja membawa gejolak di kalangan para pembesar kerajaan dan masyarakat. Namun, Prabu Muyassar tidak gentar. Ia yakin dengan pilihannya dan mulai perlahan-lahan memperkenalkan ajaran Islam kepada rakyatnya.
Uniknya, Prabu Muyassar tidak menggunakan paksaan. Ia mengawali dakwahnya dengan teladan. Ia lebih sering bergaul dengan rakyat jelata, membantu mereka dalam bertani, mengajari mereka cara mengelola air, dan memberikan nasihat-nasihat yang menyejukkan. Dalam setiap interaksinya, ia sisipkan nilai-nilai keislaman: kejujuran, keadilan, saling tolong-menolong, dan pentingnya bersyukur. Ia juga membangun sebuah surau kecil di dekat istana, tempat ia dan beberapa pengikutnya beribadah dan belajar agama.
Salah satu legenda paling terkenal tentang Prabu Muyassar adalah kemampuannya dalam memahami alam dan binatang. Dikisahkan bahwa suatu ketika, terjadi kekeringan parah di wilayahnya. Tanaman layu, ternak mati, dan rakyat menderita. Prabu Muyassar kemudian naik ke puncak Gunung Salak, bermunajat kepada Allah. Konon, ia melihat seekor burung elang yang terbang berputar-putar di atas sebuah batu besar. Mengikuti firasatnya, Prabu Muyassar memerintahkan rakyatnya untuk menggali di bawah batu itu. Dan benar saja, dari sanalah memancar sumber mata air yang jernih, menyelamatkan kehidupan di seluruh wilayahnya. Peristiwa ini semakin menguatkan keyakinan rakyat akan karomah dan kepemimpinan Prabu Muyassar.
Berkat kebijaksanaan dan keteladanannya, ajaran Islam yang dibawa Prabu Muyassar diterima dengan hangat oleh sebagian besar masyarakat Gunung Salak dan sekitarnya. Beliau tidak hanya menjadi seorang raja, tetapi juga seorang guru spiritual yang dihormati.
Asal-Usul Nama Desa Malasari
Ada satu hal menarik yang masih terekam dalam ingatan kolektif masyarakat di lereng Gunung Salak. Mengingat lidah orang Sunda pada masa itu kesulitan melafalkan nama “Muyassar” dengan tepat, mereka terbiasa memanggil sang prabu dengan sebutan “Prabu Malasar”. Ini juga selaras dengan gelar kehormatan lamanya, “Ki Gede Mulasar”. Nama panggilan ini menjadi sangat populer dan melekat erat pada sosoknya yang bijaksana dan penuh karisma.
Seiring berjalannya waktu, wilayah tempat Prabu Muyassar berdakwah dan mendirikan pusat pemerintahannya tumbuh menjadi sebuah perkampungan yang ramai. Untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Prabu Muyassar, masyarakat sepakat untuk menamai daerah tersebut dengan mengambil sebagian dari nama panggilan sang prabu. Dari kata “Malasar” inilah kemudian lahir nama Desa Malasari, yang hingga kini kita kenal berada di Kecamatan Nanggung, Bogor. Jadi, setiap kali kita mendengar nama Desa Malasari, itu adalah pengingat akan jejak dan cahaya Islam yang pertama kali disebarkan oleh Prabu Muyassar di kaki Gunung Salak.
Hingga akhir hayatnya, Prabu Muyassar tak henti-hentinya menyebarkan cahaya Islam, meninggalkan jejak kebaikan dan keimanan yang abadi di lereng-lereng Gunung Salak.
Kisah Prabu Muyassar ini menjadi pengingat bagi kita bahwa dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara, terutama melalui keteladanan dan kearifan lokal. Ia adalah simbol harmonisasi antara kepemimpinan duniawi dan spiritual, yang berhasil menanamkan benih-benih Islam tanpa harus mencabut akar budaya yang sudah ada.
kisah ini merupakan kisah legenda yang bersumber dari beberapa kumpulan penuturan masyarakat sekitar desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor.(*)
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




