Media Arahbaru
Beranda Berita Memperingati 25 Tahun Reformasi, Turun Tangan Gelar Polittalks

Memperingati 25 Tahun Reformasi, Turun Tangan Gelar Polittalks

Arah Baru – Dalam rangka memperingati 25 Tahun reformasi, komunitas Turun Tangan menggelar diskusi bertajuk Polittalks dengan tema “Reformasi & Kebebasan Berekspresi : Sebuah Janji Yang Toxic pada Senin (29/05/2023).

Kegiatan yang dilaksanakan di salah satu kafe ternama di Daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan ini dihadiri oleh Haris Azhar dari Lokataru, Tioria Pretty dari Kontras dan Aditya Halimawan dari BEM-KM UGM 2022 sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Bagas Putra selaku Project Leader mengharapkan dengan adanya kegiatan Polittalks ini dapat menjadi salah satu wadah bagi anak-anak muda untuk saling berdiskusi mengenai isu-isu politik kekinian.

“Kita harapkan ini (Polittalks) bisa menjadi clubnya anak muda untuk saling berbicara tentang politik” Harapnya.

Bahkan, menurut Alumni Universitas Brawijaya tersebut nantinya Polittalks akan dilakukan secara sustainable yang tentunya dengan konsep berdiskusi secara offline maupun online.

“Ruang percakapan publik ini bisa berlanjut dengan diskusi saat ini maupun masa depan” Tandasnya.

Ditanya mengenai tema yang diangkat, Galang Dwi Putra selaku panitia acara menjelaskan bahwa Turun Tangan menginginkan dengan adanya kegiatan ini bisa menjadikan reformasi sebagai salah satu rujukan untuk refleksi yang nantinya bisa menghasilkan diskursus baru.

“Reformasi sebagai peringatan Tahunan yang mana itu adalah kejadian besar dan berdampak kepada aktivitas kita dirasa oleh turun tangan perlu dibentuk ruang-ruang diskusi untuk menciptakan diskursus-diskursus baru” ungkanya.

Lebih jauh, Galang memberikan contoh-contoh terhadap pembungkaman berekspresi itu sendiri sehingga layak untuk menjadi tema diskusi oleh Turun Tangan. Terlebih dia menyoroti dengan adanya represifitas Negara yang membuat anak-anak muda tidak berani untuk sekedar bebricara di ruang terbuka.

“Faktanya banyak kebebebasan kita yang direnggut oleh negara selaku otoritas tertinggi yang mana membuat kita merasa bingung” jelasnya.

“Tapi sebenarnya kan banyak tuh kasus-kasus yang terjadi, pembungkaman dengan bentuk-bentuk yang sama dan baru lewat digitalisasi dan sebenarnya anak anak muda juga sekarang mulai merasakan ketakutan yang sama untuk berbicara di media sosial”. Tandasnya.

Menjawab tema yang diangkat dalam diskusi tersebut, Haris Azhar selaku narasumber mengungkapkan bahwasanya reformasi telah gagal. Karena menurutnya pasca peristiwa yang terjadi pada 21 Mei 1998 tersebut tidak memberikan perubahan yang signifikan.

“Reformasi dan produk-produknya itu tidak memberikan perubahan yang signifikan. Karena pelaku-pelakunya sekarang sudah berganti baju” Terangnya.

Selain daripada itu, Bahkan dengan berani, Haris menyatakan bahwasanya kegagalan reformasi bermula dari banyaknya para Tokoh-Tokoh reformasi yang dinilai malah mengkhianati reformasi itu sendiri yang bahkan dulunya juga kritis dan gemar untuk membaca buku-buku yang cukup kritis.

“Mereka yang saat ini berkhianat dulu adalah yang idealis, bahkan dulu mereka bacaannya buku-buku Soe Hok Gie” Ungkapnya.

Terpantau kegiatan Polittalks pada Senin malam tersebut dihadiri oleh puluhan anak-anak muda yang tersebar dari berbagai macam latar belakang dan juga nampak koordinator Kontras, Fatia Maulidiyanti yang saat ini masih harus menjalankan sidang di Pengadilan bersama Haris Azhar lantaran adanya kasus pencemaran nama baik kepada Luhut Binsar Pandjaitan.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!