Media Arahbaru
Beranda Berita Mengenang Tsunami Aceh, Bencana Dahsyat dan Perdamaian di Serambi Mekkah

Mengenang Tsunami Aceh, Bencana Dahsyat dan Perdamaian di Serambi Mekkah

Gempa dan Tsunami pada 26 Desember 2004 melumpuhkan Aceh.

Daftar isi:

[Sembunyikan] [Tampilkan]

    Arahbaru – Gempa dan tsunami Aceh yang terjadi 18 tahun yang lalu menjadi momen yang tak mungkin dilupakan.

    Hari itu, Minggu, 26 Desember 2004, sekitar pukul 07.59 WIB, wilayah paling barat Indonesia itu diguncang gempa dahsyat dengan kekuatan magnitudo 9,3.

    Gempa dahsyat itu memicu terjadinya tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pesisir daratan yang berbatasan dengan Samudera Hindia.

    Tsunami melanda 14 negara dengan korban jiwa sebanyak 230.000-280.000. Selain Indonesia, negara dengan dampak paling parah adalah Sri Lanka, India, dan Thailand.

    Gempa dan Tsunami itu menjadi salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Sehari setelah peristiwa itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bencana ini sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi.

    Peristiwa gempa dan tsunami Aceh itu memberi dampak yang cukup besar di bidang ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.

    Aceh seakan-akan kembali memulai kehidupan dari nol. Seluruh aktivitas pemerintah dan masyarakat lumpuh total. Lebih dari 500 ribu orang terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian.

    Perdamaian RI dan GAM

    Bencana gempa dan tsunami di Tanah Rencong menjadi pintu masuk perdamaian antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saat itu, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menjadi juru runding perdamaian.

    Saat itu, DPR mengkritik perundingan lantaran lokasi berada di luar negeri, yaitu Helsinki, Finlandia. Menurut DPR, hal itu merendahkan Pemerintah Indonesia.

    Namun, JK berpandangan lain. Jika perundingan dilaksanakan di Indonesia, GAM tidak akan mungkin datang.

    “(Jika perundingan di dalam negeri), mereka pasti bakal curiga akan ditahan. Apalagi pemerintah pernah menangkap para perunding GAM dan dijebloskan ke penjara,” kata Kalla pada saat itu sebagaimana dilansir dari kompas.com.

    Tepat pada 15 Agustus 2005, perjanjian Helsinki ditandatangani oleh GAM dan pemerintah Indonesia, tanda perdamaian telah tercipta di Serambi Mekkah.

    Komentar
    Bagikan:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Iklan

    error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!