Media Arahbaru
Beranda Berita MUI: Perbedaan Awal Ramadan Wajar, Umat Diminta Jaga Persatuan

MUI: Perbedaan Awal Ramadan Wajar, Umat Diminta Jaga Persatuan

Ketua MUI KH Anwar Iskandar

Arah Baru – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Anwar Iskandar menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal maupun akhir Ramadan merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. Perbedaan tersebut, kata dia, berada pada ranah ijtihad yang bersifat teknis dan tidak menyentuh prinsip dasar akidah.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati,” ujar KH. Anwar dalam konferensi pers Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1447 Hijriah di Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, masyarakat perlu membiasakan diri menyikapi perbedaan secara dewasa. Selama tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, perbedaan justru menjadi bagian dari kekayaan tradisi intelektual Islam.

Ia menilai, perbedaan yang dikelola dengan baik dapat menghadirkan harmoni sekaligus memperkuat persatuan bangsa. Sikap saling menghormati di tengah keragaman pandangan diharapkan berkontribusi pada stabilitas nasional serta mempererat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masa depan Indonesia.

Momentum Ramadan, lanjutnya, seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan. KH. Anwar mengajak umat Islam untuk menjadikan bulan suci sebagai ruang pembenahan diri, baik secara spiritual maupun sosial.

“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.

Ia juga mengimbau umat Islam agar menjaga perilaku selama berpuasa, termasuk dalam bermedia sosial. Menurutnya, penyebaran fitnah, ujaran yang menyakiti, maupun tindakan yang memicu kegaduhan bertentangan dengan esensi puasa.

Kepada masyarakat nonmuslim, KH. Anwar mengajak untuk turut menjaga suasana saling menghormati, khususnya terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, agar Ramadan berlangsung dengan khusyuk dan penuh kedamaian.

Di akhir pernyataannya, ia berharap Ramadan melahirkan pribadi-pribadi yang penuh kasih sayang (rahmah), sehingga semangat persaudaraan dan saling menghargai terus terpelihara dalam kehidupan bermasyarakat. (*)

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!