Media Arahbaru
Beranda Bisnis Saham INCO Naik 42%, Proyek Nikel 2026 Masih Tunggu Persetujuan

Saham INCO Naik 42%, Proyek Nikel 2026 Masih Tunggu Persetujuan

Arah Baru – Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berhasil menarik perhatian investor setelah mengalami kenaikan signifikan sebesar 5,83% pada sesi perdagangan terakhir.

Lonjakan tersebut merupakan bagian dari tren positif yang sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir, dengan akumulasi kenaikan mencapai 42,91%. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap saham nikel ini cukup kuat dan optimistis.

Andrian Alamsyah Saputra, Analis Riset Retail dari CGS International Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa salah satu faktor pendorong utama di balik kenaikan harga saham INCO adalah harapan terhadap penjualan bijih nikel berkadar tinggi (BZ Nickel) yang diperkirakan bisa mencapai 18 juta ton per tahun mulai 2026.

Meski potensi penjualan ini cukup besar, realisasinya masih bergantung pada persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui proses pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Pengajuan RKAB untuk tahun 2026 sendiri dijadwalkan pada kuartal ketiga tahun ini, yakni sekitar bulan September atau Oktober 2025.

“Ekspektasi penjualan BZ Nickel pada 2026 memang memberikan sentimen positif, tetapi statusnya masih 50:50 karena bergantung pada persetujuan RKAB yang akan diajukan akhir tahun nanti,” jelas Andrian dalam analisisnya, Selasa (17/6/2025).

Kinerja Keuangan Positif Tapi Core Profit Masih Lemah

Dilihat dari aspek keuangan, INCO berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 251,9% secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2025.

Laba perusahaan meningkat tajam menjadi USD 21,8 juta, dibandingkan dengan USD 6,2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini sebagian besar disokong oleh keuntungan dari penyesuaian nilai wajar atas aset derivatif.

Namun, jika merujuk pada laba inti perusahaan, hasilnya kurang menggembirakan. Laba inti INCO hanya mencapai USD 10 juta, yang jauh lebih rendah dari perkiraan konsensus yang memproyeksikan kontribusi sekitar 13% terhadap total estimasi laba sepanjang 2025.

Faktor utama yang memengaruhi hal ini adalah harga jual rata-rata (ESP) nikel matte yang lebih rendah dari perkiraan semula.

“Secara fundamental, lonjakan laba kuartal I lebih bersifat teknikal karena valuasi aset derivatif. Tapi dari sisi operasional, kinerja core-nya masih belum sesuai harapan,” kata Andrian.

Rekomendasi: Hold di Tengah Kenaikan Signifikan

Walaupun harga saham INCO telah mengalami lonjakan cukup besar dalam beberapa bulan terakhir, tim analis tetap merekomendasikan untuk mempertahankan posisi (hold).

Harga sasaran yang ditetapkan berada di level Rp3.500 per lembar saham. Rekomendasi ini didasarkan pada ketidakpastian yang masih menghinggapi perizinan proyek nikel, yang sampai saat ini belum mendapat kepastian final.

Selain itu, konsensus pasar, termasuk prediksi dari Bloomberg, sudah memasukkan potensi penjualan BZ Nickel sebanyak 18 juta ton pada tahun 2026 ke dalam perhitungan valuasi saham saat ini.

Oleh sebab itu, peluang kenaikan harga saham dalam jangka pendek dianggap terbatas tanpa adanya kepastian resmi terkait kelanjutan proyek tersebut.

“Rekomendasi hold kami dasarkan pada valuasi yang sudah cukup tinggi dan ketidakpastian approval RKAB yang belum masuk estimasi,” tegas Andrian.

Sinyal Teknikal Menarik untuk Trading Jangka Pendek

Dari sisi teknikal, grafik saham INCO memperlihatkan pola rounding bottom, yang biasanya menandakan potensi pembalikan ke arah tren naik. Namun, konfirmasi atas pola tersebut belum terwujud karena harga belum mampu melewati level resistance kunci di Rp3.920.

Sementara itu, indikator stochastic mengindikasikan bahwa saham ini berada dalam kondisi oversold, sehingga membuka peluang untuk terjadi pantulan harga dalam waktu dekat.

Support terdekat dapat ditemukan di kisaran Rp3.550 dan Rp3.470, sedangkan resistance berada pada level Rp3.710 hingga Rp3.790.

Mengacu pada sinyal teknikal yang relatif positif dan potensi volatilitas harian, saham ini masih menjadi pilihan menarik bagi para trader yang mengincar keuntungan jangka pendek.

“Pola rounding bottom sudah terbentuk, tapi konfirmasi butuh breakout di Rp3.920. Sementara ini menarik untuk trading pendek, apalagi setelah rebound dari support,” ujar Andrian.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!