Media Arahbaru
Beranda Opini Implementasi Toleransi Kebangsaan di Dunia Aktivis Yogyakarta

Implementasi Toleransi Kebangsaan di Dunia Aktivis Yogyakarta

Oleh : Nur Hanifah Ahmad (Alumni Program Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga)

Kehidupan dunia aktivis di Yogyakarta pada tahun 2023 terlihat cukup aktif dengan beragam cabang, seperti cabang agama, akademik, politik, gender, hingga lintas iman. Dari banyaknya cabang dunia aktivis di Yogyakarta ini yang paling kuat dalam kaitannya mewujudkan toleransi kebangsaan yaitu di cabang lintas iman. Beberapa organisasi lintas iman di Yogyakarta yaitu Srikandi Lintas Iman, dan YIPC. Kedua organisasi yang berfokus pada aktivitas lintas iman, perbedaan dari dua organisasi ini terletak pada persyaratan gender. Srikandi Lintas Iman yang mensyaratkan anggotanya bergender perempuan, dan YIPC yang membebaskan terkait gender. Namun memiliki tujuan yang sama di bidang toleransi antar umat beragama.

Toleransi pada dunia lintas iman ini penting adanya perhatian dari seluruh pihak di Indonesia dan dunia. Hal ini disebabkan cabang ini rentan adanya konflik, maka adanya organisasi berbasis lintas iman ini sangat membantu terwujudnya bangsa yang memiliki toleransi agar lebih kuat. Berasal dari dalam dunia aktivis, kemudian dapat menyebar ke luar dunia aktivis. Namun organisasi Lintas Iman ini juga harus faham terkait tokoh toleransi di Indonesia ataupun dunia sebagai panduan dalam menjalankan kehidupan di dunia aktivis. Dua tokoh utama dalam dunia toleransi yang penting di fahami aktivisnya yaitu Gus Dur dan Romo Mangun Wijaya.

Baca Juga : Dari Jalinan Kesetaraan Gender Menuju Lingkungan Sekolah Bebas Agresi

Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid merupakan Presiden Indonesia ke-4 Indonesia sekaligus Bapak toleransi yang telah membawa banyak perubahan di Indonesia melalui pemikiran yang terwujud di dalam kehidupan bernegara. Hal ini seperti Gus Dur yang memberikan contoh toleransi dengan berinteraksi kepada berbagai umat yang berbeda agama. Dari pemikiran yang terwujud pada tindakan nyata ini berdampak luas di negara Indonesia yang menjadi ada sisi toleransi antar umat beragama, meskipun tidak menyeluruh, namun pemikiran sekaligus kepemimpinan Gus Dur di Indonesia telah banyak membawa perubahan baik pada segi toleransi antar umat beragama.

Kemudian Romo Mangun Wijaya sang arsitek, sekaligus budayawan berpengaruh di Yogyakarta ini memiliki rekam jejak menakjubkan dengan mengubah kawasan kumuh di pinggir kali code menjadi kawasan yang tertata rapi dan tentunya jauh dari kumuh. Hal ini dilakukan oleh seorang Romo Mangun Wijaya tanpa mempedulikan golongan agama yang berbeda. Segi toleransi antar agama ini yang turut serta berhasil membawa perubahan di kawasan kali code Yogyakarta.

Kedua tokoh utama dalam toleransi Indonesia telah meninggal dunia. Gusdur meninggal dunia pada 30 Desember 2009 dan Romo Mangun Wijaya Meninggal dunia pada 10 Februari 1999. Meskipun Beliau berdua telah meninggal dunia, namun pemikiran dan jasa akan tetap abadi di dunia, terutama di Indonesia. Melalui jasa Gus Dur dan Romo Mangun Wijaya ini perwujudan toleransi semakin diperkuat melalui dunia aktivis dan masyarakat luas Indonesia.

Perwujudan interaksi lintas iman di dunia aktivis mempengaruhi secara anggotanya dalam mewujudkan lingkungan masyarakat yang toleransi terhadap pemeluk agama lain. Hal ini dapat terwujud dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, seperti tindakan ketika berinteraksi dengan pemeluk agama lain menggunakan perkataan bersifat toleransi atau dalam kata lain meghargai perbedaan yang ada di antara dua agama berbeda seperti yang dilakukan Gus Dur dan Romo Mangun Wijaya.

Hari toleransi dunia yang jatuh pada 16 November ini turut serta membuat para aktivis lintas iman maupun masyarakat Indonesia mengingat kembali segi toleransi yang telah diperjuangkan oleh Gus Dur dan Romo Mangun Wijaya. Kedua tokoh yang memiliki agama  berbeda namun telah berhasil melahirkan pemahaman dan perwujudan toleransi di Indonesia. Pemikiran beliau berdua dapat lebih di suarakan kembali ketika hari toleransi dunia ini, sebagai bentuk melanjutkan perjuangan perjuangan toleransi dari dua tokoh tersebut. Kemudian implementasi lebih jauh di luar hari toleransi.

Toleransi di Indonesia sangat penting adanya. Maka, belajar dari kedua tokoh tersebut, dunia aktivis, dan masyarakat pada umumnya, toleransi dapat lebih terwujud kembali di dunia. Sebab adanya toleransi antar umat beragama dapat menyatukan bangsa Indonesia dengan perdamaian yang ada. Berbeda jika toleransi di Indonesia rendah, kemungkinan besar perpecahan bangsa terjadi. Jadi, toleransi yang kuat itu pilihan terbaik menuju bangsa yang damai.

Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!