Bukan Selingkuh Melainkan Cinta Narsistik
Oleh : Ugha Pratama, Mahasiswa Bimbingan Konseling UNJ dan Filsafat Islam Sadra
Berkaca pada kasus perselingkuhan yang malang melintang akhir-akhir ini kemudian berujung pisah, baik yang di pertontonkan oleh beberapa artis, tokoh, dan masih banyak lagi. Mengantarkan sebuah kegelisahan tersendiri apakah benar selingkuh yang menjadi faktor perpisan atau justru hal lain?.
Perselingkuhan dalam hubungan asmara memang menjadi salah satu masalah yang sering terjadi dan dapat menyebabkan pasangan berpisah. Namun, alasan yang sebenarnya bukanlah perselingkuhan itu sendiri, atau justru dikarenakan cinta yang narsistik yang dimiliki oleh salah satu atau kedua pasangan.
Cinta narsistik adalah kondisi di mana seseorang mencintai dirinya sendiri lebih dari orang lain dan menganggap dirinya sebagai pusat dunia. Dalam hubungan asmara, cinta narsistik dapat menyebabkan seseorang merasa tidak puas dengan pasangannya dan mencari kepuasan dari orang lain. Perselingkuhan bukanlah alasan utama mengapa seseorang meninggalkan pasangannya, melainkan karena cinta narsistik yang membuat seseorang merasa tidak puas dengan pasangannya.
Teori psikologi yang mendukung persoalan ini yakni “teori Attachment” yang dikemukakan oleh John Bowlby ia menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan kedekatan serta keterikatan dengan orang lain. Namun, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang dapat mengalami kecemasan dan ketidakamanan pada hubungannya. Sehingga melalui cinta narsistik kebutuhan akan kedekatan dan keterikatan yang tidak sampai pada rasa puas maka akan mendorong untuk mencari kepuasan dari orang lain.
Dalam hubungan asmara, perselingkuhan dapat terjadi karena seseorang merasa tidak puas dengan pasangannya kemudian mencari kepuasan dari orang lain. Namun, alasan yang sebenarnya bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan cinta narsistik yang dimiliki oleh salah satu atau kedua pasangan. Cinta narsistik dapat memengaruhi kebutuhan akan kedekatan, keterikatan, otonomi, kompetensi, dan hubungan sosial yang positif, sehingga seseorang merasa tidak puas dengan pasangannya dan mencari kepuasan dari orang lain.
Dalam hal ini, penting bagi setiap pasangan untuk memahami kebutuhan masing-masing dan saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu, penting juga untuk menghindari cinta narsistik dan fokus pada cinta yang sehat dan saling menghargai. Dengan demikian, perselingkuhan dapat dihindari dan hubungan asmara dapat berjalan dengan baik.
Sebagai simpulan, perselingkuhan bukanlah alasan kenapa seseorang meninggalkan pasangannya, melainkan cinta narsistik yang membuat seseorang merasa tidak puas dengan pasangannya dan mencari kepuasan dari orang lain. Hal ini didukung oleh teori psikologi Attachment. Oleh karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk memahami kebutuhan masing-masing dan fokus pada cinta yang sehat dan saling menghargai.
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




