Media Arahbaru
Beranda Berita Gara-gara Protokoler Ruwet, Gagal Nikah, dan Berakhir Perang

Gara-gara Protokoler Ruwet, Gagal Nikah, dan Berakhir Perang

Arah Baru, Sejarah Indonesia – Tahukah anda bahwa Perang Bubat, 1357 Masehi, terjadi karena keruwetan protokoler yang berujung peperangan?

Dalam kitab Pararaton disebutkan, bahwa pinangan Bhre Prabu Sri Hayam Wuruk, maharaja Majapahit kepada Dyah Pitaloka Citrarashmi, putri Prabu Maharaja Linggabuana, maharaja Sunda-Galuh yang dikenal sebagai Pajajaran, pada awalnya diterima dengan gembira oleh Linggabuana.

Rombongan Linggabuana datang ke Trowulan dengan 200 kapal besar dan 2000 kapal kecil. Disebutkan kapal kerajaan yang dinaiki Linggabuana memiliki geladak bertingkat 9. Menyusuri Sungai Berantas hingga sampai ke ibukota Trowulan dan menetap di alun-alum Bubat, utara Trowulan.

Namun dalam prosesi menuju pernikahan terjadi keruwetan protokoler yang berakibat fatal.

“Bhre prabhu ayun ing putri ring sunda. Patih Madhu ingutus angundangeng wong sunda, ahidep wong sunda yan awawarangana.”

Bhre Prabhu (Hayam Wuruk) menginginkan putri Sunda. Patih Madhu diutus mengundang orang-orang Sunda. Pihak sunda bersedia diajak berbesan.

“Teka ratu sunda maring majhapahit, sang ratu maharaja, tan pangaturaken putri. Wong sunda kudu awiramena, tingkah ing jurungen.”

Datanglah raja Sunda ke Majapahit, yaitu Sang Ratu Maharaja (Linggabuana), tidak langsung menyerahkan putrinya. Orang-orang Sunda harus berhenti dulu (untuk menanti upacara penyambutan). Itulah rencana yang disepakati.

“Sira patihing majhapahit tan payun yen wiwahanen, reh sira rajaputri makatur-atura. Wong sunda tan pasung.”

Patih Majapahit (Gajah Mada) tidak setuju pernikahan (dengan tata cara tersebut), karena putri raja (seharusnya menjadi) persembahan. (Tetapi) orang-orang Sunda tidak (bersedia) mempersembahkan (putrinya).

Itulah sebab musabab terjadinya Perang Bubat yang disebutkan dalam Pararaton. Yaitu pernikahan yang selayaknya telah disepakati di awal di mana, rombongan calon mempelai wanita menunggu di bubat yang kemudian dihampiri dan disambut oleh calon mempelai pria, Prabu Hayam Wuruk, dengan upacara kenegaraan. Diintervensi oleh protokoler istana Majapahit yang menginginkan sang putri diserahkan sebagai sesembahan dengan di antar oleh rombongan Sunda-Galuh kepada Hayam Wuruk di istananya…

Ini adalah salah satu protocoler disaster dalam sejarah dunia yang menyebabkan semua rombongan calon mempelai wanita tewas di alun-alun Bubat. Hingga prabu Hayam Wuruk menangis sedu sedan berhari-hari karena kehilangan wanita yang dicintai sejak pandangan pertama.

Sayangnya telefon dan wedding organizer baru ditemukan 600 tahun kemudian. Andai saat itu udah ada telfon sehingga sesama protokoler istana bisa saling komunikasi di awal tentang tata cara resepsi pernikahan ditambah dimanajeri oleh wedding organizer profesional maka niscaya tidak akan terjadi tragedi ini (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!