Jokowi Jawab Kritik Hasto Soal Food Estate : Tidak Semudah Yang Dibayangkan !
Arah Baru – Kritikan dari Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto soal program food estate yang menurutnya adalah bagian dari kejahatan lingkungan dijawab secara langsung oleh Presiden Jokowi.
Awalnya, pernyataan Hasto tersebut dilontarkan saat memberikan jawaban mengenai adanya dugaan dana hasil kejahatan lingkungan ke Parpol sebagaimana yang disampaikan oleh PPATK.
Pada kesempatan itu, Hasto menyebut jika program food estate adalah program yang disalahgunakan, karena program tersebut yang menyebabkan banyak hutan yang ditebang dan Hasto menilai hal tersebut adalah kejahatan lingkungan.
“PDIP ini mempunyai program Merawat Pertiwi. Maka kami mengapa memberikan suatu catatan yang sangat kuat terkait dengan upaya yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi untuk membangun food estate, tetapi dalam praktik pada kebijakan itu ternyata disalahgunakan, dan kemudian hutan-hutan justru ditebang habis dan food estate-nya tidak terbangun dengan baik. Itu merupakan bagian dari suatu kejahatan terhadap lingkungan,” ucapnya pada Selasa (15/08).
Kritikan Hasto tersebut akhirnya direspons secara langsung oleh Jokowi yang mengatakan jika program food estate tidaklah bertujuan sangat baik dan strategis.
“Jadi kita itu membangun food estate lumbung pangan itu untuk dalam rangka mengantisipasi krisis pangan. Hati-hati, semua kawasan, semua negara sekarang ini menghadapi yang namanya krisis pangan. Wheat, gandum, problem di semua negara. Yang makan gandum semua ini masalah sekarang ini, harga juga naik drastis. Dua beras, setelah India stop nggak ekspor lagi, semua yang makan beras semuanya sekarang ini sudah masalah, harga naik,” ujar Jokowi seusai Hari Konstitusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (18/8).
Jokowi menambahkan jika keberadaan food estate itu adalah suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, yang nantinya jika terdapat kelebihan, akan diekspor ke luar negeri ke negara yang membutuhkan.
“Sehingga yang namanya lumbung pangan, food estate, itu harus, untuk cadangan, baik cadangan strategis maupun, nanti kalau memang melimpah betul nggak apa-apa, untuk ekspor, karena negara lain membutuhkan. Kita dalam rangka ke sana,” tambah Jokowi.
Selain itu, menurutnya membangun food estate tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. Karena menurutnya hasil dari food estate itu baru bisa terlihat saat di upaya keenam atau ketujuh.
“Kalau, supaya tahu, membangun food estate, membangun lumbung pangan itu tidak semudah yang Bapak-Ibu bayangkan. Taneman pertama biasanya gagal, nanem kedua masih paling-paling bisa berhasil 25 persen. Ketiga, baru biasanya ketujuh, keenam, ketujuh, itu biasanya baru pada kondisi normal. Jadi tidak semudah yang kita bayangkan,” ucap Jokowi.
Jokowi juga memberikan contoh progres food estates di beberapa wilayah yang menurutnya muncul beberapa masalah di lapangan dan tidak seperti yang dibayangkan.
“Kita bangun di Humbang Hasundutan, tiga kali itu baru bisa, agak lebih baik, belum baik, agak lebih baik. Yang di Pulang Pisau, ya, Kalimantan Tengah, itu juga belum berada pada kondisi yang normal baik. Masih mungkin separuhnya. Yang di Gunung Mas juga masih sama. Problem-problem di lapangan itu tidak seperti semudah yang kita bayangkan. Jadi semuanya akan diperbaiki dan semuanya harus dievaluasi, harus dikoreksi, harus diulang dan sebagainya. Kalau kita nggak berani baru gagal pertama sudah mundur, sampai kapan pun lupakan,” tandasnya. (Brt/Ab)
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




