Media Arahbaru
Beranda Opini Sepak Bola Seharga Nyawa

Sepak Bola Seharga Nyawa

#image_title

Tidak ada sepak bola seharga nyawa. Kalimat itu menggema (lagi). Setelah ratusan orang meregang nyawa di Stadion Kanjuruhan, Malang. Bukan karena bentrokan antar suporter melainkan berdesak-desakan akibat menghindari tembakan gas air mata aparat. Ini lebih dari sebuah tragedi.

Tragedi itu terjadi setelah pertandingan klasik, Derby Jawa Timur, antara Arema FC melawan Persebaya, pada 1 Oktober 2022.

Pertandingan sebenarnya berjalan menarik. Jumlah gol yang tercipta cukup banyak, lima gol. Tidak seperti beberapa pertandingan sebelumnya, pertandingan malam itu tidak ada kartu merah.

Sayangnya, sebuah sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka terjadi. Berawal dari tembakan gas air mata, ratusan suporter Aremania meninggal dunia.

“Dukanya hilang. Hashtagnya hilang. Namanya kembali terlupakan. Suporter kembali bersorak, tetapi ibu dan keluarganya? Seumur hidup akan membenci sepak bola”.

Kalimat di atas membanjiri laman media sosial. Mereka sepakat, meninggalnya ratusan aremania harus diusut tuntas.

Aparat VS Suporter

Meninggalnya ratusan Aremania (sekali lagi) bukan karena bentrokan antar suporter. Mereka meninggal karena berdesak-desakan di pintu keluar stadion menghindari tembakan gas air mata aparat kepolisian.

Kasus di Kanjuruhan sebenarnya bukan yang pertama. Kasus serupa pernah terjadi di Surabaya. Tepatnya saat di Stadion Gelora 10 November Tambaksari.

Suporter Persebaya, Bonek, menyebutnya dengan Arpagani, Arogansi Aparat Tiga Juni. Kejadian itu terjadi usai pertandingan antara Persebaya 1927 melawan Persija pada 3 Juni 2012.

Menurut cerita versi Bonek, kejadian itu bermula saat para Bonek turun ke lapangan untuk mencopot spanduk menjelang selesainya pertandingan.

Namun, aparat kepolisian menghadang aksi para Bonek. Mereka mungkin mengira bahwa para Bonek yang turun itu ingin menyerang pemain Persija.

Aksi dorong mendorong pun terjadi. Chaos pun tak terhindarkan.

Di tengah keributan itu, polisi menembakkan gas air mata. Para suporter pun panik. Mereka berdesak-desakan berebut keluar dari stadion.

Situasi tersebut membuat salah seorang suporter meninggal dunia. Purwo Adi Utomo, siswa SMK Negri 5 Surabaya, meninggal karena kekurangan oksigen dan terinjak-injak massa.


Protap Keamanan

Berkaca pada kasus Kanjuruhan (semoga yang terakhir), pihak penyelenggara sepak bola di Indonesia sudah selayaknya merubah protap pengamanan.

Kalau kita melihat pertandingan liga-liga di Eropa, kita tidak menyaksikan adanya aparat kepolisian, apalagi kemudian adanya gas air mata.

Di liga-liga Eropa yang jamak kita saksikan, keamanan di dalam stadion diserahkan kepada pengamanan atau steward. Aparat kepolisian hanya sebagai supervisi.

mengutip dari bola.net, dalam pertandingan sepak bola, steward menjadi pihak yang melindungi. Namun, mereka akan diatur oleh kepala polisi dalam laga itu dan bertanggung jawab atas sumber daya pihak keamanan.

Steward bertanggung jawab atas peristiwa apa pun di stadion. Mereka juga memiliki hak untuk menghubungi kepala polisi jika steward tidak bisa mengatasi jika ada peristiwa yang terjadi.

Stewards secara efektif mengawasi di dalam stadion sepak bola. Polisi kemudian yang memberi dukungan. Jika situasi berubah dari mengawasi peristiwa normal menjadi kekacauan, polisi menjadi yang memiliki tugas utama

Kita tentu berharap kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Tidak ada lagi kalimat “Tidak ada sepak bola seharga nyawa”.

Penulis: M. Muhtar – Pengamat Sepak Bola

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!