Media Arahbaru
Beranda Tokoh Siapa Lafran Pane yang Filmnya Baru Tayang?

Siapa Lafran Pane yang Filmnya Baru Tayang?

Lafran Pane menjadi salah satu tokoh yang banyak diperbincangkan akhir-akhir ini. Hal ini tidak lain karena telah tayangnya film dengan judul “Lafran”.

Film Lafran mengisahkan sosok Lafran Pane sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947.

Sutradara dalam film ini adalah Faozan Rizal. Adapun aktor-aktor yang menghiasi film ini adalah Dimas Anggara, yang berperan sebagai Lafran Pane, serta Mathias Muchus, Tanta Ginting, Ariyo Wahab, Lala Karmela, dan Farandika.

HMI merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia. Dari rahim HMI ini, telah menghasilkan banyak tokoh, seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, Akbar Tandjung, dan Jusuf Kalla.

Di kalangan pejabat kementerian era Jokowi, banyak alumni HMI bertebaran. Sebutlah Dito Ariotedjo,Muhadjir Effendi, Airlanggar Hartarto, dan Bahlil Lahadalia.

Tak ayal, peluncuran film ini mendapat atensi dari banyak pihak. Bahkan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian akan menyosialisasikan film tersebut, termasuk melalui media social.

“Kami akan membuat potongan-potongan film ke TikTok. Cuplikan pendeknya film ini, trailer-nyalah. Kami akan sosialisasikan ke daerah,” kata Tito dalam keterangan pada Jumat (21/06/2024).

Profil Lafran Pane

Melansir dari trennow, Lafran Pane lahir pada 5 Februari 1922 di Padang Sidimpuan, Sumatera Utara. Ia lahir dari pasangan Sutan Pangurabaan Pane dan Nurlina Daulay.

Ayahnya adalah seorang jurnalis, sastrawan, dan pendiri serta pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan. Sutan Pangurabaan merupakan pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada tahun 1921, yang menunjukkan komitmennya pada pendidikan dan pengembangan masyarakat.

Lafran juga memiliki dua kakak yang terkenal sebagai sastrawan, yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane. Karya-karya mereka masih banyak bertebaran di toko buku, perpustakaan, maupun di internet.

Tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang intelektual dan keagamaan yang kuat, Lafran terinspirasi untuk mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan dan keislaman.

Pendidikan formal Lafran bermula di Pesantren Muhammadiyah Sipirok. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di HIS Muhammadiyah sebelum melanjutkan ke Sekolah Tinggi Islam (STI).

Pada April 1948, Lafran memutuskan untuk berpindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) yang kini menjadi bagian dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Peran dalam Pergerakan Kemerdekaan

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Lafran Pane terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan pemuda.

Pada waktu itu, Salah satu momen penting dalam hidupnya adalah keterlibatannya dalam penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, sebuah tindakan yang bertujuan untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, dan ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, Lafran juga ikut pindah dan melanjutkan pendidikannya di STI.

Di Yogyakarta, Lafran bergabung dengan Persyarikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY). Namun, ia merasa bahwa PMY tidak memiliki dasar keislaman yang kuat.

Hal ini mendorongnya untuk keluar dan mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947. HMI didirikan dengan tujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengembangkan ajaran Islam di kalangan mahasiswa.

Organisasi ini terus berkembang menjadi salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang termasuk politik, sosial, dan pendidikan.

Selain berperan sebagai pendiri HMI, Lafran Pane juga berkarir sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia dikenal sebagai seorang pendidik yang berdedikasi dan berkomitmen tinggi dalam mengajar serta membimbing mahasiswa. Peranannya sebagai pendidik mencerminkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang berilmu dan berakhlak.

Penghargaan

Pada tahun 2017, Lafran Pane dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam mendirikan HMI dan perannya dalam pembangunan bangsa.

Lafran Pane meninggal pada 24 Januari 1991 di Yogyakarta, namun warisannya terus hidup melalui HMI dan kontribusinya dalam bidang pendidikan dan sosial.

Lafran Pane adalah contoh teladan bagi generasi muda Indonesia tentang bagaimana semangat keislaman dapat disinergikan dengan semangat kebangsaan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.

Warisannya sebagai pendidik dan aktivis sosial-politik terus menginspirasi dan menjadi fondasi kuat bagi perjuangan generasi selanjutnya.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!