Media Arahbaru
Beranda Opini Kenapa Orang Jawa ada dimana-mana? Menepis Tuduhan Jawanisasi

Kenapa Orang Jawa ada dimana-mana? Menepis Tuduhan Jawanisasi

Penulis : Asyam Shobir Muyassar Direktur Purbajati Art Institute

Mengapa orang Jawa ada di mana-mana?
Yang sering dituduhkan adalah karena orang Jawa ingin melakukan Jawanisasi, menjajah Indonesia atau menjadikan semua Indonesia Jawa. Padahal ini adalah tuduhan yang salah besar kepada saudara-saudara kita Orang Jawa. Orang Jawa tidaklah seperti itu.

Jawabanya sederhana saja. Karena orang Cina pun ada di mana-mana. Dimana ada orang Cina, di situ biasanya ada orang Jawa. Ibaratnya seperti di mana ada gula, di situ ada semut. Makanan yang terkenal diperdagangkan oleh orang Jawa juga banyak yang berasal dari China seperti Bakso, Bakmie, Bakwan, Bakpia, Lumpia, soto, wedang ronde, capcay, nasi goreng, kwetiau dll.

Selain itu, sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang Cina di Indonesia banyak yang jadi pengusaha. Para pemilik perusahaan-perusahaan besar dan ternama kebanyakan adalah orang keturunan China.

Pastinya orang Cina membutuhkan tenaga kerja, karyawan atau buruh. Tak cuma butuh tenaga kerja atau karyawan yang kerja di perusahaan saja, tapi rumah tangga orang-oranh China, juga membutuhkan pembantu untuk bekerja di rumahnya.

Dan di Indonesia, bahkan di Asia, salah satu tenaga kerja yang terkenal banyak, serta mau dibayar murah adalah yang berasal dari Jawa.

Orang Jawa pun kini ada di seluruh provinsi Indonesia. Menyebar lalu beranak pinak. Ini berkat gencarnya program transmigrasi zaman orde baru Soeharto dulu. Orang Jawa diangkut dari kampungnya beramai-ramai. Berduyun-duyun. Pakai truk atau pakai kapal laut. Makanya ada istilah BEDOL DESA.Lalu ditempatkan di hutan-hutan wilayah Sumatera pada awalnya. Setelah itu, barulah bertahap ke pulau lainya.

Kebijakan transmigrasi Ini, juga disinyalir karena adanya pengaruh orang China.
Seoharto dulu sangat dekat dengan pengusaha kaya raya. Imigran asal negeri Tiongkok. Namanya Liem Sioe Liong. Ia adalah pendiri perusahaan raksasa bernama Salim Grup.

Perusahaan ini bergerak dalam bidang Media Telekomunikasi, keuangan, ritel, makanan, minuman, restoran. Selain itu, juga mempunyai beberapa anak perusahaan. Produsen mie terbesar di dunia, termasuk produsen tepung besar di Indonesia juga bergabung di bawah Salim Grup ini.

Selain itu, Salim Grup juga punya ribuan kilometer persegi kebun kelapa sawit. Dan juga punya relasi berbagai perusahaan lain milik orang China lainya yang bergerak di bidang perkebunan. Komoditinya beraneka ragam seperti karet dan lainya.

Makanya bisa dipahami, mengapa pada zaman Orde Baru, banyak wilayah hutan di Sumatera ditanami dengan kelapa sawit, dan karet secara besar-besaran. Tak lain adalah untuk mendukung bisnis raksasa Liem Sioe Liong. Lalu pertanyaanya hutan sawit yang besar ini perlu tenaga kerja. Siapa pekerjanya? Dan bagaimana caranya agar orang tidak tahu kalau mereka bekerja untuk kepentingan bisnis milik orang China yang sangat besar?

Lalu didatangkanlah pekerja dari Jawa secara besar-besaran. Kenapa harus pekerja dari Jawa? Kenapa tidak warga lokal saja?
Proganda yang biasa dihembuskan adalah karena orang Jawa ulet, pekerja keras dan sebagainya.

Padahal, itu hanyalah sebuah propaganda belaka saja. Dengan mendatangkan para pekerja dari Jawa, pemerintah Orde baru bisa membungkusnya dengan program bernama Transmigrasi. Dilakukanlah propaganda bahwa transmigrasi ini tujuanya untuk pemerataan penduduk, serta pemerataan pembangunan di Indonesia. Di Jawa sudah padat, makanya orang Jawalah yang harus disebar ke pulau lainya. Begitu penjelasanya. Orang-orang pun begitu mudah percaya.

Padahal, para transmigran yang besar-besaran itu untuk bekerja di kebun sawit, karet dan komoditi lainya, yang hasilnya nanti dipakai untuk menyokong bisnis Liem dan pengusaha Cina lainya yang ada di Jawa. Saat itu, orde baru juga meluncurkan program KB. Dua anak saja cukup. Tapi program KB ini tak berlaku bagi transmigran. Banyak keluarga transmigran yang punya anak lebih dari 2. Punya 4, 6 bahkan 10 anak. Tidak apa, semakin banyak anak semakin bagus karena semakin banyak tenaga kerja juga nantinya.

Dari hasil kelapa sawit, karet dari perkebunan di Sumatera dan pulau lain, dibuatlah berbagai infrastruktur di Pulau Jawa seperti jalan, gedung, pelabuhan, bandara, jalan kereta api, pusat perbelanjaan, perumahan dibangun lebih bagus di Jawa. Sekali lagi, tujuanya untuk mendukung kelancaran bisnis para pengusaha China yang kantor-kantornya semakin besar di Jawa. Pusat bisnis tumbuh di Jawa.

Sementara di luar Jawa kondisinya tetap tertinggal. Dari sinilah muncul istilah Jawasentris. Yaitu pembangunan hanya berpusat di Jawa saja.

Soeharto yang saat itu punya kekuatan dalam militer, ditambah dengan punya kuasa sebagai presiden, sangatlah mudah membuat kebijakan-kebijakan termasuk menggerakan orang Jawa untuk transmigrasi mengolah sawit di Sumatera dàn pulau lain. Semuanya untuk memuluskan bisnis Liem Sioe Liong beserta para relasi Tiongkoknya. Dengan dukungan Soeharto, Liem pernah menjadi pengusaha Taipan China terbesar di Asia Tenggara.

Di sisi lain Liem Sioe Liong yang pandai berbisnis, juga memberikan timbal balik pada Soeharto. Liem menjadi pilar bisnis milik Soeharto. Kekayaan hasil bisnis Liem juga mengalir keluarga Soeharto. Selain itu, hasil bisnis Liem juga disetor untuk membiayai kebijakan-kebijakan ambisius Soeharto.

Untuk menghindari kecurigaan rakyat bahwa Soeharto membela kepentingan pengusaha taipan China, banyak para taipan pengusaha besar China itu yang mengganti namanya dengan nama Jawa. Jadi tak tampak kentara bahwa ia orang asal china. Soeharto pun membuat kebijakan tidak boleh pakai nama China atau yang berbau China. Agar orang mengira Soeharto tak membela orang China.

Nah, jadi kalau ada yang mengatakan orang Jawa ada di mana-mana, karena orang Jawa itu ingin menjajah atau melakukan jawanisasi atau menjawakan seluruh Indonesia ini salah. Banyak transmigran yang berangkat tidak tahu apa-apa. Tidak berpikir kritis karena tingkat pendidikan tranamigran saat itu tidaklah tinggi. Mereka hanya tau berangkat saja untuk bekerja di perkebunan sawit. Dengan harapan merubah hidup. Tidak paham soal pengusaha China Liem Sioe Liong.

Namun di sisi lain, jika menyebut orang Jawa ada di mana-mana karena budaya perantau, maaf ini sebetulnya juga tidaklah tepat.

Merantau berasal dari kata rantau merupakan istilah dari Bahasa Minangkabau, bukan dari bahasa Jawa. Dan dalam budaya Minangkabau, merantau itu punya pengertian yang berkaitan dengan tradisi budaya. Tidak sekedar pergi meninggalkan kampung halaman saja. Beda dengan zaman sekarang, banyak orang mengartikan merantau sekedar kegiatan meninggalkan kampung halaman saja. Padahal dalam budaya Minang bukan begitu.

Merantau adalah aktivitas mencari penghidupan yang dipengaruhi dorongan tradisi adat budaya Minang. Di mana sorang laki-laki yang telah dewasa bisanya diharuskan mencari ilmu dan penghidupan di luar rumah. Karena budaya Minang menganut sistem Matrilineal, maka yang berhak atas rumah dan harta bendanya adalah pihak perempuan atau Ibu.

Laki-laki harus mulai mencarinya di luar rumah. Pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Itu pun dengan bekal sendiri, tekad sendiri atau modal sendiri. Lalu di tempat tujuan juga mencari tempat sendiri, dan berusaha menghidupi diri dengan kemampuan sendiri seperti berdagang. Jika ada rintangan yang mengancam juga mampu membela diri sendiri, yaitu dengan ilmu silek (silat). Makanya silat Minang adalah yang cukup terkenal dan tertua di Indonesia. Di pulau Jawa silek orang Minang bertemu dengan budaya beladiri pencak. Maka kemudian munculah istilah pencak silat.

Nah, merantaunya orang Minang ini berbeda dengan orang Jawa yang diangkut ke Pulau lain oleh pemerintah, dibiayai, diberi uang saku, diberi tanah dan tempat tinggal. Ini bukanlah pergi merantau. Tapi pergi transmigrasi. Pergi meninggalkan kampung halaman bukan karena dorongan tradisi budaya yang turun menurun, atau karena dorongan budaya Matrilineal. Melainkan karena adanya kebijakan politik atau program dari penguasa, serta pengaruh kepentingan ekonomi/bisnis dari pihak lain salah satunya orang China. Makanya bisa dipahami di mana ada orang China, biasanya disitu akan ada juga ikut orang Jawa.

Di zaman sekarang orang Jawa ada di mana-mana bukan hanya karena ada Orang China. Tapi orang dari negeri lainya, misalnya orang dari Yaman. Sifat orang Jawa adalah ramah dan baik. Bahkan kadang terlalu ramah atau kadang terkesan menghamba. Termasuk menghamba pada orang dari negeri Yaman.

Orang Jawa banyak yang menjadikan orang keturunan Yaman ini sbeagai panutan bahkan tuanya. Tak sedikit orang Jawa yang rela mencium tangan bahkan kaki orang Yaman dengan alasan untuk mendapatkan berkah dan rejeki. Kemanapun orang Yaman pergi, ada saja orang Jawa yang selalu mengikuti. Bahkan di manapun orang Yaman mengadakan acara kumpulan, pasti saja ada orang Jawa yang ikut. Sekalipun jauh di kota lain, kadang ada saja orang Jawa yang datang walaupun jauh. Karena bagi sebagian orang Jawa, merasa takut jika tak menuruti kemauan atau melawan orang Yaman, karena diancam tak masuk surga nanti.

Penulis : Asyam Shobir Muyassar
Direktur Purbajati Art Institute

Referensi :

Alhabsyi, Muza Kazim.2023. Identitas Arab itu Ilusi. Jakarta : Mizan Publishing.

Ansoriy, Nassrudin. 2008. Bangsa Inlander, Potret Kolonialisme di Indonesia. Yogyakarta : LKIS Publishing.

Borsuk, Richard & Chng, Nancy. 2014. Liem Sioe Liong dan Salim Grup : Pilar Bisnis Soeharto. Singapore : Iseas Publishing.

H.J Heeren. 1979. Transmigrasi di Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Naim, Mochtar. 2012. Merantau : Pola Migrasi Suku Minang. Depok : Rajagrafindo Persada.

Sumarsono, H.R. 2018. Mengkritisi Aporisma Orang Jawa. Jakarta : Media Maxima.


Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

error: Content Dilindungi Undang Undang Dilarang Untuk Copy!!