Rutin Lakukan Pengawasan, Mendag Pastikan Harga Pangan Aman
Arah Baru – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa harga pangan, termasuk daging sapi di pasar, dalam kondisi stabil dan tidak bermasalah. Ia menjelaskan bahwa Kemendag rutin melakukan pengawasan untuk memastikan hal tersebut.
Pernyataan ini menanggapi kabar menurunnya jumlah pembeli daging sapi di pasar tradisional yang menyebabkan sebagian pedagang beralih profesi.
“Aman, gak ada masalah. Harga barang-barang juga gak ada masalah. Daging juga oke, gak ada masalah,” kata Budi, ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Dia mengaku tim dari dari Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag sering melakukan pengecekan. Hasilnya tidak ditemukan ada masalah.
“Kita sering tiap hari melakukan pantauan kok, ke pasar, temen-temen di BDN, gak ada masalah,” ucap dia.
Budi Santoso mengaku akan mengecek kembali kondisi pedagang di pasar tradisional. Termasuk kondisi pedagang daging sapi.
“Enggak, ya coba nanti kami cek lagi, tapi selama ini gak ada masalah. Gak ada laporan apa, temen-temen juga oke-oke aja kok,” katanya.
Sebagian Harga Pangan Naik
Mengacu pada data dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), tercatat ada 14 jenis bahan pangan yang mengalami kenaikan harga pada 12 Agustus 2025. Kenaikan terlihat pada komoditas seperti beras, daging sapi, minyak goreng, dan ikan.
Harga beras premium tercatat Rp16.271 per kilogram, naik 0,56 persen dibandingkan hari sebelumnya. Beras medium naik 0,46 persen menjadi Rp14.484 per kilogram, sementara beras SPHP naik 0,48 persen menjadi Rp12.679 per kilogram.
Bawang merah naik 1,54 persen ke harga Rp54.510 per kilogram, dan bawang putih bonggol naik 0,50 persen menjadi Rp38.696 per kilogram. Cabai rawit sedikit naik 0,05 persen ke Rp50.252 per kilogram.
Daging sapi murni meningkat 0,44 persen ke Rp135.250 per kilogram, sedangkan daging kerbau beku impor naik signifikan 2,13 persen menjadi Rp106.611 per kilogram.
Telur ayam ras mengalami kenaikan 0,62 persen menjadi Rp29.747 per kilogram, dan gula konsumsi naik 0,38 persen ke Rp18.270 per kilogram.
Garam konsumsi naik 0,66 persen menjadi Rp11.656 per kilogram, minyakita naik 0,37 persen ke Rp17.558 per liter, tepung terigu kemasan naik tipis 0,05 persen menjadi Rp13.002 per kilogram, dan ikan kembung juga naik 0,05 persen ke harga Rp41.547 per kilogram.
Harga Turun
Sementara itu, beberapa bahan pangan lainnya justru mengalami penurunan harga. Misalnya, daging kerbau lokal turun 0,38 persen menjadi Rp141.196 per kilogram. Ikan bandeng juga turun tipis 0,05 persen ke Rp34.571 per kilogram.
Harga ikan tongkol turun 0,14 persen menjadi Rp34.569 per kilogram, sementara tepung terigu turun 0,12 persen ke Rp9.832 per kilogram.
Minyak goreng curah mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 0,81 persen menjadi Rp17.524 per liter, dan minyak goreng kemasan turun tipis 0,01 persen menjadi Rp20.878 per liter.
Daging ayam ras turun 0,08 persen menjadi Rp35.322 per kilogram. Harga cabai merah besar turun cukup tajam sebesar 1,24 persen menjadi Rp43.510 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting turun 0,18 persen ke Rp43.504 per kilogram.
Kedelai biji kering impor turun 0,09 persen menjadi Rp10.763 per kilogram, dan jagung tingkat peternak turun 0,06 persen menjadi Rp6.404 per kilogram.
Harga Pangan Jadi Biang Kerok Kemiskinan
Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sejumlah harga pangan mengalami kenaikan pada Februari 2025, menjelang pendataan kemiskinan Maret 2025.
Komoditas yang mengalami lonjakan harga pangan antara lain minyak goreng, cabai rawit, dan bawang putih. Ketiga komoditas ini merupakan bahan pangan utama di rumah tangga Indonesia.
“Sebagai besar komoditi pangan, mengalami kenaikan harga. Seperti ada minyak goreng yang juga naik, cabai rawit, bawang putih. Tetapi sebagian komoditas pangan juga mengalami penurunan harga seperti beras, daging ayam ras yang menurun ya, bawang merah,” kata Ateng dalam konferensi pers Profil Kemiskinan di Indonesia Kondisi Maret 2025, Jumat (25/7/2025).
Porsi Belanja Terbesar
Kenaikan harga menghadirkan kesulitan khusus bagi keluarga miskin dan hampir miskin, karena pengeluaran terbesar mereka adalah untuk kebutuhan pangan.
Menurut BPS, pengeluaran makanan menyumbang sekitar 74,58 persen dari garis kemiskinan, sehingga fluktuasi harga bahan makanan sangat memengaruhi kondisi kemiskinan secara langsung.
“Berdasarkan garis kemiskinan juga kita melihat di grafik yang lingkarannya peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan mencapai 74,58 persen. Lebih besar jika dibandingkan dengan peran komoditi bukan makanan yaitu peranannya 25,42 persen,” jelasnya.
Kenaikan harga mencerminkan adanya tekanan inflasi yang biasanya muncul setiap musim menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Walaupun Ramadan jatuh pada Maret 2025, data SUSENAS dikumpulkan pada Februari agar tidak terpengaruh oleh fluktuasi musiman tersebut. Namun, dampak kenaikan harga yang mulai terjadi sejak awal tahun tetap dirasakan.
Join channel telegram arahbaru.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




